Berita Terbaru Kabupaten Blitar

Bermula Dari Nanas Sortiran, Ibu di Ponggok Blitar Raup Omzet Rp 11 Juta Perhari

Berawal dari memanfaatkan nanas sortiran, ibu di kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar, memproduksi sari nanas dengan omzet Rp 11 juta perhari

Penulis: Samsul Hadi | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/samsul hadi
Azizah saat mengawasi pekerjanya memproduksi minuman sari nanas di rumahnya Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Selasa (15/10/2024).    

Kebetulan, di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar yang berada di lereng Gunung Kelud juga menjadi sentra petani nanas.

Dengan begitu, ia mudah mendapatkan bahan baku buah nanas untuk memproduksi minuman sari nanas.

"Mertua saya petani dan pedagang nanas kawakan di Desa Sidorejo. Mertua saya punya penyakit kolesterol dan asam urat. Kalau sakitnya kambuh, biasanya mertua saya merebus nanas dan meminum sarinya untuk obat," ujarnya.

"Dari situ, saya mencoba membuat minuman olahan dari buah nanas. Kalau mertua sakitnya kambuh, biar gampang mencari sari nanas," lanjutnya.

Selain itu, ia juga merasa sayang ketika melihat mertua dan suaminya meninggalkan begitu saja buah nanas yang ukuran kecil di kebun.

Biasanya, mertua dan suaminya hanya mengambil buah nanas grade A untuk dijual tiap hari ke luar kota mulai Bandung, Jakarta dan Surabaya.

Sedang buah nanas ukuran kecil atau masuk grade C dan grade D biasanya ditinggal di kebun. Kalaupun dijual, buah nanas ukuran kecil harganya murah.

Harga jual buah nanas grade A biasanya kisaran Rp 8.000 per kilogram. Sedang buah nanas sortir kalau dijual harganya hanya Rp 25.000 per satu keranjang besar.

"Mertua saya kalau beli nanas ke petani sistemnya nebas di kebun. Jadi semua buah nanas yang ukuran besar dan kecil juga dibeli. Biasanya yang dijual ke luar kota hanya buah nanas yang ukuran besar atau grade A. Sedang yang ukuran kecil ditinggal di kebun," katanya.

Melihat itu, Azizah mencoba mengolah buah nanas sortiran menjadi minuman untuk menaikkan nilai jualnya.

Apalagi, ia melihat masih jarang produsen minuman sari nanas di masyarakat. Produk minuman paling banyak beredar di masyarakat sari apel dan teh.

Ia belajar cara membuat minuman sari nanas dari tutorial di YouTube.

Ia memulai memproduksi sendiri minuman sari nanas dengan cara manual di dapur rumahnya. Pengemasan minuman sari nanas juga masih manual menggunakan mesin cup sealer.

"Dulu, saya mengemas minuman pakai mesin cup sealer, lalu saya potong pakai gunting. Setelah itu saya tempel stiker di atasnya. Produksinya juga di dapur rumah, tidak ujug-ujug besar seperti sekarang ini," ujarnya.

Pemasaran minuman sari nanas produksinya juga masih terbatas kepada tetangga sekitar rumahnya.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved