Pesona Gandrung Banyuwangi

Pesona Gandrung Banyuwangi, Mulai Dari Kesenian Mistis hingga Pertunjukan Menawan

Tari Gandrung Banyuwangi menjadi salah satu kesenian yang terus eksis hingga saat ini. Inilah riwayat lengkapnya

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
ist
Pertunjukan Gandrung Terop di kabupaten Banyuwangi 

Selain itu, gandrung terop juga memiliki beberapa pakem. Mulai dari topengan, jejer, repen, paju, hingga seblang subuh (seblang-seblang).

Topengan merupakan tarian pembuka dalam pertunjukan gandrung terop. Tarian yang ditampilkan merupakan tarian jawa dengan gending jawa pula. Berikutnya, pertunjukan dilanjutkan dengan jejer, pertunjukan tari yang mulai menunjukkan tari-tari khas Banyuwangi.

Sementara repen merupakan pertunjukan saat penari gandrung mendatangi tamu-tamu atau tuan rumah. Setelah itu, penari dan tamu atau tuan rumah akan menari bersama di depan pentas yang disebut dengan pakem paju.

Paju ini akan berlangsung berulang-ulang hingga para tamu kebagian untuk menari bersama gandrung. Setelah rampung, pertunjukan akan ditutup dengan seblang subuh, yakni tarian yang berlangsung menjelang subuh.

Selain gandrung terop, tari gandrung sebagai sarana pertunjukan dan hiburan wisata juga tak kalah terkenal di Banyuwangi. Gandrung sudah menjadi ikon yang mendarah daging bukan hanya oleh suku Osing, tapi juga warga etnis lain di Bumi Blambangan.

Upaya pelestarian gandrung dengan tampilan pertunjukan modern ini bukan dilakukan dalam sekejap. Pemerintah Banyuwangi telah memulainya sejak berpuluh tahun lalu. Puncaknya, saat Bupati Banyuwangi periode 2010-2021 Abdullah Azwar Anas menggelar festival Gandrung Sewu pertama tahun 2012.

Festival itu masih terus dijalankan hingga kini. Gandrung sewu menjadi pertunjukan yang ditunggu-tunggu oleh wisatawan setiap tahunnya. Pertunjukan yang menampilkan lebih dari seribu penari usia anak sekolah itu juga masuk dalam Kharisma Even Nusantara (KEN), kalender pariwisata yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Karena ingin menjadi bagian dari pertunjukan gandrungs sewu, ribuan anak sekolah berlomba-lomba untuk berlatih menari gandrung.

Jauh sebelum itu, Pemkab Banyuwangi juga mengupayakan pelestarian gandrung melalui berbagai cara. Menurut Novi Anoegrajekti dalam tulisannya berjudul "Gandrung Banyuwangi: Kontestasi dan Representasi Identitas Osing", sosialisasi seperti pelatihan tari gandrung secara reguler mulai digalakkan pada periode 2002-2023, hingga pada 2009.

Dia menyebut, pelestarian gandrung juga dilakukan melalui formalisasi tradisi Meras Gandrung, semacam wisuda bagi gandrung profesional yang telah siap berkiprah.

"Secara eksplisit, berbagai upaya dalam bentuk konservasi tradisi itu mereka ungkapkan untuk menampilkan identitas Using di tengah pertarungan yang semakin global," tulis Novi, akademisi yang banyak meneliti soal gandrung Banyuwangi itu.

(aflahul abidin/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved