Pengeroyokan Santri di Blitar
Santrinya Tewas Dikeroyok Belasan Teman, Berikut Penjelasan Pengurus Ponpes di Blitar
Penjelasan Pengurus Ponpes Tahsinul Akhlak di Kecamatan Sutojayan, Blitar, soal insiden pengeroyokan yang menyebabkan seorang santrinya meninggal
Penulis: Samsul Hadi | Editor: eben haezer
Saat ini, kata Wafa, pengurus pondok sedang fokus terhadap perkara tersebut. Pengurus pondok menyerahkan sepenuhnya perkara itu kepada polisi.
Pengurus pondok juga ikut berbelasungkawa kepada keluarga korban.
"Karena semua (pelaku dan korban) santri kami, kami terus menjalin kebersamaan dengan keluarga korban dan keluarga pelaku untuk melakukan mediasi. Perkara ini menjadi bahan evaluasi kami untuk berbenah dan melakukan perbaikan sistem keamanan di pondok. Pondok kami punya sekitar 120 santri," katanya.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, Baharuddin mengatakan, dengan peristiwa itu, Kemenag berusaha meningkatkan pembinaan terhadap pesantren sebagai penyangga karakter para santri sebagaimana harapan orang tua.
Menurutnya, Kemenag telah menerbitkan keputusan Dirjen Pendidikan Islam tentang Panduan Pesantren Ramah Anak.
"Harapannya pendidikan pesantren betul-betul bisa menerapkan penyelenggaraan pendidikan yang membangun karakter anak sesuai harapan orang tua," katanya.
Selain itu, kata Baharuddin, Kemenag juga melakukan koordinasi dengan stakeholder terutama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk melakukan pendampingan di Ponpes yang mengalami musibah tersebut.
"Terutama untuk mengembalikan trauma para santri di pesantren. Karena kasus ini menimbulkan korban jiwa, tentunya para santri akan mengalami trauma. Kami berusaha mengembalikan kondisi psikis para santri normal seperti semula," ujarnya.
(samsul hadi/tribunmataraman.com)
editor: eben haezer
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.