Opini
Pertahanan Semesta Presiden Prabowo
Francis Fukuyama (1989) mengajukan premis, bahwa demokrasi liberal titik akhir dari evolusi dari ideologi manusia.
Industri nasional yang menopang kebutuhan alat pertahanan (alutsista) juga berkembang. Kita telah memiliki PT PAL yang mampu membuat kapal perang, kita memiliki PT Pindad yang memproduksi tank, senapan tempur, dan arteleri berat lainnya. Kita juga memiliki proyek pengembangan pesawat tempur dengan Korea Selatan untuk pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 berkode KAI KF 21 Boramae. Prototipe sudah ada, dan sempat uji coba, entah kenapa lajunya proyek ini lambat sekali. Intinya, industri pertahanan nasional kita perlukan untuk membangun kemandirian alat pertahanan nasional
Dari sisi anggaran, kami di Badan Anggaran DPR selalu mendukung kebutuhan anggaran TNI untuk mencapai MEF. Jika dibandingkan dengan kebutuhan anggaran negara negara maju dengan kekuatan militer canggih, alokasi anggaran pertahanan Indonesia memang masih rendah. Defend Budget Rank 2025 yang di rilis oleh Global Firepower menempatkan Indonesia di urutan 29, dibawah Singapura di urutan 26. Tentu ini belum ideal mendukung MEF, karena keterbatasan fiskal kita. Kedepan kita perkuat kebutuhan anggaran pertahanan, sejalan dengan upaya penyehatan fiskal.
Terakhir, profesionalitas prajurit TNI menjadi modal penting bagi TNI membangun kekuatan pertahanan. Profesionalitas TNI berarti netral dari politik praktis, sebaliknya politisi sipil tidak menarik TNI ke arena politik. TNI hanya berada pada kebijakan politik pertahanan negara. Profesional TNI juga berarti prajurit TNI mampu memenuhi kecakapan mengemban tugas pertahanan.
Secara individual, prajurit TNI memiliki kemampuan tempur terlatih, disiplin, loyal dan setia pada janji sapta marga. TNI dibangun dengan merit sistem yang ketat, prestasi menjadi acuan kenaikan pangkat. Bravo, Dirgahayu TNI ke 80 tahun. Jadilah patriot bangsa gagah berani. (*)
Said Abdullah
Ketua DPP PDI Perjuangan
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Mataraman
(TribunMataraman.com)
| Mengapa Outlook Fitch Negatif Bisa Berbahaya bagi Industrialisasi Indonesia |
|
|---|
| Pemerintah Bisa Pakai Anggaran On Call Rp 4 triliun untuk Penanganan Bencana di Sumatera |
|
|---|
| Said Abdullah : Perpecahan PBNU Merugikan Bangsa |
|
|---|
| Santri Menjawab Tantangan Modernitas |
|
|---|
| Presiden Prabowo Harus Terapkan KPI, Said Abdullah : Hindari Menteri Kecewa Terkena Reshuffle |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/Ketua-DPD-PDI-Perjuangan-Jatim-Said-Abdullah-saat-ditemui-di-Kantor-PDIP-Jatim-di-Surabaya.jpg)