Selasa, 9 Juni 2026

Berita Terbaru Kota Surabaya

Profil Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya yang Didemo Warga soal Relokasi RPH Pegirian

Inilah sosok Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang viral didemo warganya masalah relokasi Pegirian.

Tayang:
Penulis: faridmukarrom | Editor: faridmukarrom
TribunMataraman.com/Kompas.com
Inilah sosok Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang viral didemo warganya masalah relokasi Pegirian. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Sosok Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya yang viral menjadi sorotan publik Surabaya. 

Wali Kota Surabaya itu menghadapi gelombang penolakan dari pedagang dan jagal Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian yang menolak rencana relokasi aktivitas pemotongan sapi ke Tambak Osowilangun (TOW).

Ratusan massa mendatangi Balai Kota Surabaya dan mengancam akan kembali menggelar aksi lanjutan pada Rabu (14/1/2026).

Mereka bahkan menyatakan siap mendirikan tenda dan menginap di depan Balai Kota hingga tuntutan dipenuhi.

Para pedagang dan jagal menilai relokasi RPH Pegirian ke TOW berpotensi mematikan mata pencaharian ribuan warga.

Baca juga: Perempuan Diduga Terjun di Sungai Brantas Ditemukan Tewas di Perbatasan Blitar-Tulungagung

Jarak lokasi yang mencapai sekitar 14 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari 45 menit dinilai terlalu jauh, terutama karena aktivitas pemotongan sapi dilakukan dini hari. 

Jalur menuju TOW juga dianggap rawan kecelakaan dan kejahatan.

Selain itu, fasilitas di RPH TOW disebut belum memadai. Kedekatannya dengan tempat pembuangan akhir (TPA) turut menimbulkan kekhawatiran soal kualitas dan higienitas daging.

Di tengah tekanan tersebut, sosok Eri Cahyadi kembali diuji sebagai pemimpin kota terbesar kedua di Indonesia.

Sosok Eri Cahyadi

Eri Cahyadi lahir di Surabaya pada 27 Mei 1977, dari pasangan Urip Suwondo dan Mas Ayu Esa Aisjah. Ayahnya merupakan birokrat di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

Meski berasal dari keluarga ASN, Eri terbiasa mandiri sejak muda. Saat masih duduk di SMAN 21 Surabaya, ia sudah berjualan sembako dan kambing untuk membantu ekonomi keluarga. Di sela kesibukan itu, Eri tetap menyalurkan hobinya bermain bola voli.

Selepas SMA, Eri memperoleh beasiswa D3 Teknik Sipil ITS Surabaya. Namun, masa kuliahnya sempat diuji ketika sang ayah didiagnosis menderita penyakit jantung. Demi membantu biaya keluarga, Eri sempat bekerja sebagai penjual alat kesehatan dan berkeliling menawarkan produknya ke rumah sakit-rumah sakit di Surabaya, meski kerap mendapat penolakan.

Karier Panjang sebagai Birokrat

Atas permintaan ayahnya, Eri akhirnya memutuskan menjadi ASN Pemkot Surabaya. Ia memulai karier sebagai staf golongan II C di Dinas Bangunan pada 2001.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved