Kamis, 30 April 2026

Ramadan 2026

Masjid Al Mudda’i Canggu Kediri Masih Gunakan Jam Matahari Penanda Waktu Salat

Di Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, berdiri Masjid Al Mudda'i yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Isya Anshori
PENANDA WAKTU - Warga saat menunjukkan alat jam matahari tradisional di Masjid Al Mudda'i Canggu Badas yang oleh warga setempat disebut bencet, Senin (23/2/2026). 

Ringkasan Berita:

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Di Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, berdiri Masjid Al Mudda'i yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di wilayah tersebut. 

Dikelilingi pepohonan rindang dan deretan sawo kecik yang telah berusia puluhan tahun, masjid ini masih mempertahankan tradisi lama, termasuk penggunaan jam matahari sebagai penanda waktu salat.

Saat datang ke area masjid, suasana di sekitar masih terasa asri.

Jalan menuju lokasi sedikit masuk dari jalan raya utama dan langsung disambut oleh dua pohon sawo sebagai pagar utama luar masjid. 

Total ada sekitar sepuluh pohon sawo kecik berdiri kokoh di halaman yang menjadi ciri khas masjid tua sebagaimana lazim ditemui pada bangunan-bangunan lawas di Jawa.

Masjid ini diyakini telah berdiri sejak era 1920-an atau bahkan sebelumnya.

Dari struktur bangunannya, terlihat ciri khas masjid kuno dengan empat tiang utama atau soko guru dari kayu jati yang masih asli dan belum pernah diganti.

"Kami belum menemukan tanda pasti kapan bangunan ini pertama didirikan namun kalau melihat dari struktur bangunannya, ini sekitar tahun 1920 ke bawah," ucap Misnan, salah satu pengurus Masjid saat ditemui, Senin (23/2/2026).

Misnan menyebut, konstruksi empat tiang penyangga tersebut mirip dengan beberapa masjid tua lain di Kabupaten Kediri, seperti Masjid Baiturrahman Tambakrejo Gurah dan Masjid Al Khotib Gurah pada era sebelum 1930-an.

Baca juga: Daftar 3 Pesantren Tertua di Kediri dan Blitar, Berdiri Lebih dari Seabad dan Tetap Eksis

Nama Al Mudda’i diambil dari nama yang berkaitan dengan tokoh agama setempat, Hasan Mudda’i yang dahulu dikenal sebagai kiai pembabat alas di wilayah tersebut.

Di belakang masjid, hingga kini masih terdapat makam Hasan Mudda’i beserta keluarga dan keturunannya.

Menurut cerita turun-temurun, peletakan batu pertama masjid konon dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sang pendiri Nadhatul Ulama (NU).

Di masa lampau, kawasan ini juga pernah memiliki pondok pesantren yang lokasinya tak jauh dari aliran sungai di belakang masjid, sebagai sumber kebutuhan air para santri.

"Dulu ada pondoknya, tapi sudah tidak ada sejak saya kecil. Bekas-bekasnya masih terlihat di sisi selatan masjid," kata pria 55 tahun ini.

Salah satu keunikan Masjid Al Mudda’i adalah keberadaan jam matahari tradisional yang oleh warga setempat disebut bencet.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved