Kamis, 16 April 2026

Ramadan 2026

Empat Strategi Menjemput Malam Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan

10 malam terakhir di Bulan Ramadan, saatnya meningkatkan intensitas ibadah untuk meraih pahala di malam Lailatul qadar

|
Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Gladistha Putri Dwi Gumilar
MENGEJAR MALAM MULIA - Langit sore mulai meredup jelang masuknya sepuluh malam terakhir Ramadan di Surabaya. 

Ringkasan Berita:
  • Memasuki garis akhir Ramadan, setiap Muslim perlu membangun kesungguhan melalui shalat, dzikir, dan tilawah Al-Qur'an secara konsisten. 
  • Mengikuti teladan Rasulullah yang mengencangkan “ikat pinggang” di garis akhir, ibadah tidak harus terpaku di masjid saja, melainkan tentang bagaimana menghadirkan kekhusyukan dan ketulusan hati dalam setiap amalan hingga terbit fajar.

TRIBUNMATARAMAN.COM - Memasuki garis akhir bulan Ramadan, umat Islam kini berada pada fase yang paling dinanti, yakni sepuluh malam terakhir Ramadan.

Ini adalah momentum untuk melakukan ibadah demi mengejar malam Lailatul Qadar atau malam yang nilainya melampaui seribu bulan.

Meneladani Kesungguhan Sang Nabi

Rasulullah SAW telah memberikan petak jalan yang jelas. Berdasarkan riwayat Aisyah r.a., sang Nabi meningkatkan ibadahnya secara drastis pada fase akhir ini.

Rasul tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga mengingatkan keluarganya agar tidak terlelap dalam kelalaian saat pintu langit sedang terbuka lebar.

Ibadah Rasulullah digambarkan dengan “mengencangkan ikat pinggang", sebuah kiasan untuk totalitas dalam menjauhi kesenangan duniawi demi fokus sepenuhnya pada qiyamul lail (salat malam), tilawah, dan dzikir.

Tips Praktis dari Ustaz Adi Hidayat (UAH)

Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustaz Adi Hidayat, memberikan tips sederhana namun jitu bagi mereka yang ingin memastikan diri meraih Lailatul Qadar.

Kuncinya bukan pada lokasi, melainkan pada konsistensi setiap malam.

"Gampang caranya, setiap malam Ramadan jangan tinggalkan ibadah. Bangunlah walau hanya 1 atau 2 jam," pesan UAH yang dikutip dari laman YouTube Adi Hidayat Official, pada (9/3/2026).

UAH menekankan bahwa Lailatul Qadar tidak mutlak harus diraih di masjid melalui iktikaf jika situasi tidak memungkinkan.

Yang terpenting adalah menghidupkan suasana ibadah di mana pun kita berada, terutama dengan memperbanyak doa yang diajarkan Nabi:

“Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni”

(Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku).

Baca juga: Jembatan Garuda di Prigi Trenggalek Rampung, Anak Sekolah Tak Perlu Lagi Arungi Sungai

Empat Tiang Pemaksimalan Ibadah

Untuk menutup Ramadan dengan catatan amal terbaik, berikut adalah strategi yang bisa diterapkan:

  • Detoksifikasi Lisan dan Hati : Hindari dosa-dosa kecil yang merusak pahala, seperti ghibah atau debat sia-sia. Ulama mengingatkan bahwa maksiat di siang hari adalah penghalang kekhusyukan di malam hari.
  • Kekuatan Salat Berjamaah : Jangan sepelekan Isya dan Subuh berjamaah. Menjaga keduanya secara konsisten memberikan pahala seolah-olah kita menghidupkan seluruh malam dengan shalat.
  • Interaksi Intens dengan Al-Quran : Mengingat Ramadan adalah bulan Al-Quran, menambah target tilawah adalah cara efektif untuk meraih ketenangan jiwa.
  • Sedekah Tersembunyi : Memberi dalam sunyi tidak hanya melipatgandakan pahala, tetapi juga menjadi perisai dari murka Allah SWT.

Berburu malam Lailatul Qadar bukan sekadar mengejar kuantitas rakaat, melainkan menghadirkan kualitas ketulusan hati.

Konsistensi kecil yang dilakukan setiap malam jauh lebih berharga daripada ibadah besar yang hanya dilakukan sekali.

Mari jadikan sisa hari ini sebagai ajang refleksi dan pembersihan diri, agar saat Idul Fitri tiba, kita benar-benar kembali dalam keadaan fitrah.

(Gladistha Putri Dwi Gumilar/TribunMataraman.com)

Editor : Sri Wahyunik

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati

 

Dari Wirid ke Warid

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved