Kamis, 7 Mei 2026

Berita Terbaru Kota Blitar

Kirim Kendang Jimbe ke Malaysia dan Amerika, Perajin di Blitar Terdampak Nilai Tukar Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Produsen Kendang Jimbe di Kota Blitar Keluhkan Biaya Produksi Naik 20 Persen

Tayang:
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Rendy Nicko
TribunMataraman.com/Samsul Hadi
PRODUSEN KENDANG - Pekerja sedang memproduksi kendang jimbe di tempat produksi milik M Jefri Firmansyah di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Selasa (5/5/2026).  

TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Produsen kendang jimbe di Kota Blitar ikut terdampak dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat harga bahan baku kerajinan kendang jimbe, khususnya yang impor ikut naik. 

Dampaknya, biaya produksi kerajinan kendang jimbe membengkak sekitar 20 persen hingga 30 persen. 

Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sekitar Rp 17.400 per dolar AS.

Baca juga: Ratusan Peternak Sapi Ramaikan Kontes Ternak di Wates, Pemkab Kediri Dorong Ternak Lokal Naik Kelas 

Seperti diungkapkan M Jefri Firmansyah, produsen kendang jimbe dan rebana di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Selasa (5/5/2026).

"Pelaku UMKM di bidang industri kerajinan kendang jimbe ada beberapa bahan baku yang impor, seperti plastik dan besi. Itu pasti ada kenaikan harga dampak melemahnya rupiah. Otomatis biaya produksi meningkat," kata Jefri. 

Jefri mengatakan, perajin kendang jimbe dan rebana membutuhkan besi dan plastik untuk pengemasan.

Dengan kenaikan harga besi dan plastik, otomatis biaya produksi kerajinan kendang jimbe dan rebana meningkat.

"Biaya operasional naik sekitar 20-30 persen. Sedang harga jual kendang jimbe relatif masih tetap. Beberapa konsumen mau harganya kami sesuaikan dengan kenaikan harga bahan baku. Tapi, sebagian lagi masih alot," ujarnya.

Harga jual kendang jimbe milik Jefri mulai paling murah Rp 15.000 per biji sampai harga jutaan.

Harga jual rebana mulai Rp 30.000 per biji sampai harga Rp 500.000 per biji. 

Jefri menjual produk kendang jimbe di pasar lokal dan pasar internasional. 

Untuk pasar lokal, ia melayani konsumen hampir dari semua wilayah di Indonesia. 

Sedang untuk pasar internasional, ia melayani konsumen dari Malaysia, Singapura, dan Amerika.

Kapasitas produksi kendang jimbe dan rebana milik Jefri sekitar 3.000 biji per bulan. 

Dari total produksi itu, kapasitas kendang jimbe yang diekspor ke luar negeri hanya sekitar 200-300 biji per bulan. 

Baca juga: Target 63 Ribu Ton Gula, PG Pesantren Baru Optimistis Hadapi Musim Giling 2026

"Kami ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Amerika. Jenis kerajinan yang kami ekspor paling banyak kendang jimbe. Ekspor paling rutin tiap bulan ke Malaysia," katanya. 

Jenis kerajinan yang diproduksi Jefri, antara lain, kendang jimbe, rebana, alat hadroh, tifa, dan ketipung. 

Ia memiliki sebanyak 20 pekerja untuk produksi dan pemasaran kerajinan kendang jimbe dan rebana.

Dalam sebulan, omzet dari usaha kerajinan kendang jimbe dan rebana milik Jefri kisaran Rp 800 juta sampai Rp 1 miliar. 

"Ini sebenarnya usaha milik orang tua saya yang sudah beroperasi sejak 2000-an. Pasca pandemi Covid-19, saya diminta mengelola dan meneruskan usaha ini," ujarnya. 

Terdampak Perang

Menurutnya, saat ini, kondisi ekonomi global sedang tidak menentu dampak perang AS-Israel dan Iran.

Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti ini, pengusaha lokal hanya berusaha bertahan agar tetap produksi. 

"Seperti sekarang ini, kenaikan harga bahan baku tidak secara bertahap, tapi langsung tinggi," katanya.

"Di sisi lain, kami mau menaikan harga jual belum berani, karena khawatir harga bahan baku turun lagi. Kondisinya tidak menentu, kami berusaha bertahan saja," pungkasnya. 

(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved