Berita Terbaru Kota Surabaya

Midtown Hotel dan Kopi Tutur Rasa Gelar Workshop Melukis Menggunakan Ampas Kopi Untuk Barista Tuli

Midtown Hotel Indonesia melalui Kopi Tutur Rasa baru-baru ini menggelar workshop seni melukis menggunakan ampas kopi untuk para barista tuli

Penulis: Nadiva | Editor: eben haezer
Nadiva Ariandy
Midtown Hotel Indonesia melalui Kopi Tutur Rasa baru-baru ini menggelar workshop seni melukis menggunakan ampas kopi untuk para barista tuli, Rabu (11/12/2024). 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA – Midtown Hotel Indonesia melalui Kopi Tutur Rasa baru-baru ini menggelar workshop seni melukis menggunakan ampas kopi untuk para barista tuli, Rabu (11/12/2024).

Kegiatan yang bertujuan memberdayakan dan mengembangkan kreativitas para penyandang disabilitas ini berlangsung penuh semangat dan antusiasme.

Muhammad Fadillah Akbar, seorang barista Verwood Hotel, mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti workshop tersebut.

“Saya pertama kali belajar. Belum tahu konsep tentang gelap terang. Tapi, tadi sudah diajari sama mentor. Jadi, sekarang saya sudah paham,” ujarnya.

Salah satu karya yang dihasilkannya adalah boneka salju di tengah badai.

Menurutnya, karya ini mengandung makna filosofis yang terinspirasi dari dirinya sendiri.

“Tadi melukis boneka salju di tengah badai. Filosofinya terinspirasi dari diri saya sendiri. Berdiri dan bertahan di tengah badai seperti boneka salju. Harus kuat,” katanya. 

Karya ini secara simbolis menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sementara itu, Anya, barista Crown Prince Hotel, juga menceritakan kegembiraannya saat bisa menggambar kembali setelah sekian lama.

“Dulu waktu sekolah saya pernah belajar menggambar. Tapi, saya sudah lama tidak menggambar lagi. Sekarang rasanya sulit untuk menggambar. Tadi saya coba belajar lagi menggambar tema Natal. Saya senang melihat hasil gambar saya. Ternyata gambar natalnya indah,” ungkapnya dengan antusias.

Workshop ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi para barista tuli untuk mengekspresikan diri melalui seni, tetapi juga menjadi wadah komunikasi dan interaksi yang menyenangkan.

“Saya komunikasi dengan orang dengar menggunakan bisindo. Saya senang bisa ngobrol bareng staff dan teman magang. Seru banget ngobrolnya,” ungkap Anya.

Midtown Hotel Indonesia membuktikan bahwa inklusivitas sesungguhnya bukan sekadar memberi kesempatan, tetapi juga melawan stereotipe dengan menghargai potensi unik setiap individu tanpa ada diskriminasi kemampuan fisik.

 (nadiva ariandy/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved