Berita Terbaru Kota Surabaya
Tampilkan Modest Wear, Desainer Muda Asal Aceh Terkesan dengan Surabaya Fashion Parade
Raeny Monika, desainer asal Aceh, perkenalkan koleksi busana muslimnya di acara Surabaya Fashion Parade. Berikut rinciannya
TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA- Panggung Surabaya Fashion Parade yang digelar beberapa pekan lalu (22-25/8/2024) memberi kesan mendalam bagi desainer muda asal Aceh, Raeny Monika.
Melalui merek fashion Raeny, ia pergi ke Surabaya untuk memperkenalkan koleksi busana muslimnya di runway tersebut.
Raeny terkesima melihat penampilan busana karya para desainer Surabaya dan sekitarnya. Hal ini mendorong tekadnya untuk lebih meningkatkan value rancangannya.
“Yang saya dapat setelah mengikuti fashion show di SFP kemarin, saya melihat pasar Surabaya besar. Potensi busana muslim lumayan besar dan fashion designer-nya sangat matang sehingga kami terpacu untuk bisa meningkat ke level itu,” ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (18/9/2024).
Baca juga: Djagabhumi Fashion Show Jadi Ajang Unjuk Gigi Para Desainer Dari Wilayah Mataraman
Ia mengaku, tampil di SFP menjadi pengalaman tampil di panggung fashion show terbesar yang pernah ia ikuti.
Raeny pun bersyukur dapat tampil di Surabaya dan mengenalkan rancangannya.
“Untuk event fashion, SFP bukan pertama kali. Sebelumnya pernah di Jakarta, tapi ini yang terbesar yang saya ikuti,” sebut perempuan berusia 24 tahun itu.
Terkait koleksinya, ia membawa busana muslim (modest wear) berbahan sifon Arab dan kombinasi batik dari Dekranasda Aceh Besar.
Kolaborasi ini menghasilkan 10 koleksi busana wanita muslimah.
“Kemarin baju kami baju modest dengan batik, maka kami berikan konsep muslimah,” sebutnya.
Dari koleksi tersebut, ia mengatakan hadir dengan warna di luar dari pakem Aceh Besar yang biasanya merah, hijau, dan kuning. Kali ini tampil dengan warna busana lebih lembut.
Batik dada limpan menjadi salah satu motif yang dimunculkan.
Ia mengatakan, motif tersebut memiliki filosofi kehati-hatian.
“Limpan besar yang secara fisik menyeramkan tapi ada keindahan di bagian tubuhnya. Maknanya, untuk menilai seseorang, tidak bisa dari tampilannya saja,” ungkapnya.
Busana dengan potongan khas Melayu ini ditargetkan untuk pengguna wanita dewasa berusia 30 hingga 45 tahun.
Dengan membawa batik kustom dari Aceh Besar ke Surabaya, Raeny berharap dapat mengembangkan pasar batik daerahnya lebih luas lagi.
“Batik di Aceh baru berkembang dan ternyata selama ini peminatnya sangat besar. Harapannya, dengan ini bisa menambah minat terhadap batik Aceh,” ungkapnya.
(kanurika anisa/tribunmataraman.com)
editor: nadiva ariandy
Viral Video Warga Lakarsantri Surabaya Rekam Bentrokan Belasan Pemuda, Berikut Kronologinya |
![]() |
---|
Kereta Cepat Jakarta–Surabaya Sedang di Tahap Study Mendalam, Wali Kota Eri Sambut Baik |
![]() |
---|
Modus Investasi Burung, Wakil Direktur Intelkam Polda Jatim Jadi Korban Penipuan Rp100 Juta |
![]() |
---|
WALHI Desak PLTSa Benowo Ditutup: Polusi Udara Melebihi Batas Aman WHO |
![]() |
---|
19 Hari Hilang, Remaja Putri di Surabaya Ditemukan di Hotel Bersama 4 Pria dan Sabu-sabu |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.