Opini
Sepak Bola Tanpa Muatan Politik, Mungkinkah?
Tidak mencampuradukkan urusan politik dengan olahraga adalah sebuah prinsip yang ideal. Tetapi hal ini sulit diterapkan dengan mentah-mentah.
Dunia persepakbolaan Indonesia sedang berduka. Tetapi sebagai sebuah bangsa kita harus bangga, Indonesia menunjukkan sikap tegasnya. Kita harus memupuk keyakinan para semua anak bangsa akan bisa mengikuti ajang sepak bola segala usia. Anak-anak bangsa dari berbagai daerah telah pupus harapannya menjadi anggota timnas yang pertama mengikuti piala dunia U-20.
Tidak perlu kecewa semuanya masih bisa bermain, sepak bola Indonesia bisa lebih maju tanpa harus melacurkan garis politik negaranya.
Sepak bola sejak dini bisa lebih digalakkan, talenta-talenta muda bisa lebih difokuskan dalam basecamp atau pusat pelatihan sepak bola. Pelatih dalam atau luar negeri bisa lebih memusatkan perhatiannya pada strategi bermain Timnas Indonesia. Tidak berlebihan kalau masyarakat berjumlah 276 juta jiwa dicari 11 orang untuk menggawangi Timnas Indonesia.
Masalah gizi bisa diatur, masalah stamina bisa dilatih, strategi bermain bisa dicari, yang terpenting adalah kita tidak menggadaikan prinsip kita sebagai negara yang berdaulat.
Sikap Pemda (Pemerintah Daerah) dengan Pemerintah Pusat perlu kita acungi jempol. Semua telah bersepakat dan satu irama. Ini bisa menjadi case study yang baik bagi penerapan politik desentralisasi daerah.
Daerah memiliki sikap yang tegas tanpa harus menunggu Pemerintah Pusat. Meskipun Presiden Jokowi telah memerintahkan Erick Thohir sebagai ketua umum PSSI untuk melobi FIFA atas pembatalan Indonesia sebagai host ini, tidak akan mengubah sikap politik Indonesia.
Memang kita akan rugi telah mengeluarkan biaya yang tidak kecil, melakukan penataan di berbagai bidang, telah membangun berbagai infrastruktur, bahkan lebih ekstrim lagi dikucilkan dari percaturan negara-negara lain dalam urusan sepak bola. Tetapi kita harus menyokong dan bangga atas garis politik yang telah kita ambil dan terapkan.
Bangsa lain akan lebih menaruh hormat kepada Indonesia yang mempertahankan prinsipnya. Penulis ingat pada lagu Hip Hop Jogja Ojo Leda Lede, kalau orang Surabaya menyebutnya Ojo Ndal Ndul (tidak memiliki prinsip). Penulis juga ingat pada kisah Honocoroko. Keduanya mempertahankan amanah atau janjinya (prinsipnya) kepada orang yang memberi tugas untuk menjaga kerisnya.
Penulis: Yayan Sakti Suryandaru (Dosen Departemen Komunikasi FISIP Universitas Airlangga Surabaya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/mataraman/foto/bank/originals/argentina-tuan-rumah-piala-dunia-U-20.jpg)