Opini
Sepak Bola Tanpa Muatan Politik, Mungkinkah?
Tidak mencampuradukkan urusan politik dengan olahraga adalah sebuah prinsip yang ideal. Tetapi hal ini sulit diterapkan dengan mentah-mentah.
MENYEDIHKAN, menyayat hati para pemain sepak bola Indonesia bersedih hati karena Indonesia batal menjadi host piala dunia U-20 tahun 2023 Mei mendatang. Semua pihak saling mencari kambing hitam siapa yang bersalah? Petinggi PSSI, Menpora, Kabinet Jokowi juga dipersalahkan karena tidak mengantisipasi hal ini.
Indonesia memang bersikap menolak kedatangan timnas Israel yang masuk dalam perhelatan ini. Jika dicermati, tidak ada yang salah dalam hal ini.
FIFA berprinsip tidak mencampuradukan urusan olahraga dengan politik. Sedangkan Indonesia juga berprinsip memiliki garis kebijakan negara untuk mengutuk politik zionisme Israel dan timnas Israel.
Masing-masing memiliki prinsip yang kuat, kita tidak perlu bersedih, berkecil hati, karena negara ini sebagai negara yang merdeka memiliki prinsip dan kebijakan politik yang jelas. Yakin saja kita akan menjadi peserta atau menjadi host piala dunia kapan pun itu.
Keyakinan ini harus dipegang teguh oleh seluruh rakyat Indonesia. Kita harus bangga untuk memegang erat-erat prinsip tersebut. Sedangkan FIFA berprinsip tidak mencampuradukkan politik praktis dalam olahraga. Ini sebuah keyakinan harus diakui oleh semua anggota FIFA.
Politik dalam olahraga
Menjadi sebuah pertanyaan besar, mungkinkah olahraga tidak bisa dicampuri urusan politik?.
Padahal jika dicermati, memilih pemain, menunjuk pelatih, bursa transfer pemain, strategi permainan dalam 90 menit, semuanya memerlukan politik dalam meramunya. Jadi jika pertanyaan politik tidak campur tangan olahraga itu tidaklah mungkin.
Semuanya dengan pertimbangan politik, dan memerlukan kepiawaian pelaksanaanya yang mengerti sedikit mengenai politik di dalamnya.
Jadi tidaklah mungkin, mengabaikan urusan politik di dalam urusan olahraga. Hal ini ditunjukkan dengan pemilihan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di Indonesia. Bahkan kita memiliki, tanggal 9 September Hari Olahraga Nasional.
Sebagai negara yang menentang pendudukan Israel atas tanah Palestina, Indonesia lebih dahulu bersikap demikian dibandingkan dengan piala dunia U-20. Jadi sikap ini merupakan garis politik yang keras dari Indonesia. Sebagian besar mendukung upaya hal ini.
Jadi dalam hal ini, Indonesia tidak bisa dipersalahkan ketika menolak kedatangan timnas Israel. Seluruh komponen bangsa ini dalam urusan politik satu suara satu komitmen, tidak bersahabat dengan Israel dalam bidang apapun.
Tidak mencampuradukkan urusan politik dengan olahraga adalah sebuah prinsip yang ideal. Tetapi hal ini sulit diterapkan dengan mentah-mentah. Bahkan sejak presiden Soeharto hingga Jokowi garis kebijakan hal ini sangat tegas.
Jadi Indonesia (sebagai ketua) di PBB atau bahkan semua organisasi menolak politik zionisme Israel. Jadi saya cuma bisa bilang bahwa kondisi ini, kita sedang apes!. Israel kebetulan masuk sekian besar U-20 ketika Indonesia sudah pasti menjadi host. Jadi tidak perlu mencari kambing hitam di persoalan ini. Kita harus tegak berdiri, menunjukkan sikap kita.
Nasib sepak bola RI kedepan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/mataraman/foto/bank/originals/argentina-tuan-rumah-piala-dunia-U-20.jpg)