Breaking News:

Berita Trenggalek

Selama Pandemi Covid-19, Banyak Warga Trenggalek yang Takut Mendatangi Fasilitas Kesehatan

Sejak pandemi Covid-19, banyak warga Kabupaten Trenggalek yang takut pergi ke fasilitas kesehatan.

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/aflahul abidin
Bupati Trenggalek, Mas Ipin meninjau pelaksanaan penyuntikan vaksin booster untuk guru dan tenaga kependidikan di Kabupaten Trenggalek, Kamis (13/1/2022) 

TRIBUNMATARAMAN.com | TRENGGALEK - Sejak pandemi Covid-19, banyak warga Kabupaten Trenggalek yang takut pergi ke fasilitas kesehatan.

Ketakutan itu kemungkinan didasari oleh dua hal. Pertama, takut tertular virus saat berpergian ke puskesmas. Kedua, takut untuk dites deteksi Covid-19 saat sakit.

Banyaknya warga yang takut ke fasilitas kesehatan, utamanya puskesmas, menyebabkan kunjungan pasien ke tempat pengobatan itu juga menurun drastis di Kabupaten Trenggalek.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencan Kabupaten Trenggalek, Saeroni mengatakan kunjungan ke puskesmas yang ada di Kabupaten Trenggalek menurun hingga 25 persen selama 2021.

"Penurunan kunjungan ke puskesmas sangat signifikan. Tiap puskesmas ada yang penurunan kunjungannya 10 persen, 20 persen, paling banyak 40 persen (dibanding kunjungan tahun sebelumnya). Jadi memang masyarakat takut ke faskes," kata Saeroni, Jumat (14/1/2022).

Penurunan yang itu merupakan penurunan kunjungan pasien reguler. Bukan pasien yang datang karena gejala Covid-19 atau terpapar Covid-19.

Apalagi, lima dari 22 puskesmas yang ada di Kabupaten Trenggalek juga dimanfaatkan sebagai rumah sakit darurat Covid-19 (DSDC) pada tahun lalu.

Hal itu membuat kelima puskesmas hanya menangani pasien Covid-19. Sementara pasien reguler dialihkan ke puskesmas terdekat.

Saeroni menjelaskan, penurunan jumlah kunjungan tersebut berdampak pada penurunan keterisian fasilitas rawat inap di puskesmas-puskesmas.

"Perawatan rawat inap juga menurun. Penurunan ini karena kunjungan pasien juga menurun. Kalau dirata-rata, mungkin penurunannya juga 25 persen," kata Saeroni.

"Karena mungkin masyarakat banyak yang takut diperiksa. Takut ada Covid-19," sambungnya. 

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved