Jumat, 17 April 2026

Cuaca Ekstrem di Kediri

BMKG Kediri Ingatkan Waspada Cuaca Ekstrem Jelang Nataru Meski Bibit Siklon Menjauh

BMKG Dhoho Kediri Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem menjelang libur Natal dan Tahun Baru

Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Isya Anshori
ILUSTRASI - Terlihat pengendara nekat melintas saat hujan lebat disertai angin kencang di Jalan Pare - Kediri. 

Ringkasan Berita:
  • Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dhoho Kediri Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
  • Hal tersebut diumumkan menyusul fenomena Bibit siklon tropis 93S yang sebelumnya terpantau di perairan selatan Indonesia saat ini bergerak semakin menjauh dari tanah air

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dhoho Kediri Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Hal tersebut diumumkan menyusul fenomena Bibit siklon tropis 93S yang sebelumnya terpantau di perairan selatan Indonesia saat ini bergerak semakin menjauh dari tanah air.

Ketua Kelompok Meteorologi Publik BMKG Dhoho Kediri, Satria Krida Nugraha mengatakan menjauhnya bibit siklon 93S membuat pola cuaca di Indonesia kembali dipengaruhi kondisi musim hujan.

Namun demikian, risiko hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, terutama di akhir Desember hingga awal Januari.

"Dengan menjauhnya bibit siklon tropis 93S, kondisi cuaca di Indonesia kembali seperti normalnya musim hujan. Meski demikian, potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi, terutama di akhir bulan dan awal Januari," katanya, Selasa (23/12/2025).

Satria menegaskan, hingga saat ini tidak ada indikasi bibit siklon 93S akan kembali mendekati wilayah Tanah Air.

Seiring jaraknya yang semakin jauh, dampak tidak langsung dari sistem tersebut juga terus berkurang.

"Untuk saat ini belum ada potensi mendekat sama sekali. Ketika jaraknya sudah menjauh, dampak tidak langsungnya juga ikut berkurang," lanjutnya.

Baca juga: Bos Kebab Baba Rafi Temui Korban Bencana Alam di Aceh, Pastikan Bantuan Tersalurkan Maksimal

Meski ancaman siklon melemah, BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur, termasuk wilayah Kediri, masih dipengaruhi fenomena atmosfer lain.

Di antaranya adalah pengaruh Monsun Asia, gelombang Rossby, dan dinamika atmosfer regional.

"Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini bukan semata karena bibit siklon 93S, tetapi juga dipengaruhi fenomena lain seperti monsun Asia dan gelombang Rossby," jelas Satria.

Untuk wilayah Kediri dan sekitarnya, BMKG memprakirakan hujan masih berpotensi terjadi hampir setiap hari dalam sepekan ke depan hingga pergantian tahun.

Intensitas hujan umumnya ringan, namun pada periode tertentu dapat meningkat menjadi lebih lebat.

"Setiap hari ada potensi hujan ringan. Namun di akhir tahun dan awal Januari, potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi tetap perlu diwaspadai," ungkapnya.

BMKG juga mencatat hujan lebat yang terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa hari terakhir masih berkaitan dengan dampak tidak langsung bibit siklon 93S yang sebelumnya berada cukup dekat dengan Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved