Senin, 13 April 2026

Cuaca Ekstrem di Kediri

BMKG Dhoho Kediri Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Waspada Potensi Ini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dhoho Kediri mengingatkan adanya fenomena panas terik yang dipicu oleh gerak semu matahari

Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Isya Anshori
Suasana siang hari di kawasan Simpang Tiga Mengkreng Purwoasri Kabupaten Kediri. BMKG Dhoho Kediri menjelaskan tentang fenomena terik matahari 

TRIBUNMATARAMAN.COM I KEDIRI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dhoho Kediri mengingatkan adanya fenomena panas terik yang dipicu oleh gerak semu matahari.

Fenomena ini juga bertepatan dengan masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. 

Fenomena itu menyebabkan suhu udara terasa semakin menyengat beberapa hari terakhir di wilayah Kediri dan bukan semata akibat musim kemarau

Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Satria Krida Nugraha menjelaskan bahwa setiap tahun Indonesia mengalami dua fase gerak semu matahari.

Fase pertama terjadi pada Maret hingga Mei, dan fase kedua pada Juni hingga Agustus. 

Dalam periode ini, posisi matahari tampak melintas tepat di atas wilayah Indonesia sehingga intensitas radiasi sinar matahari meningkat tajam.

"Yang kita rasakan saat ini lebih panas karena sedang masa peralihan dari kemarau ke hujan. Curah hujan belum tinggi, tutupan awan sedikit, sehingga sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi," kata Satria saat dikonfirmasi, Selasa (21/10/2025).

Satria menjelaskan, kondisi langit yang cerah tanpa banyak awan membuat panas matahari terasa lebih menyengat dibanding biasanya.

Selain itu, kelembapan udara yang meningkat menjelang musim hujan juga membuat tubuh terasa lebih gerah. 

"Meskipun suhu tercatat sama, misalnya 35 derajat Celsius, ketika kelembapan tinggi, udara terasa lebih panas dan lembap dibanding saat udara kering," imbuhnya.

Baca juga: Mandi Sepulang Sekolah, Siswa SMP Watulimo Tewas Tenggelam di Dam Belakang Sekolah

Satria menambahkan, perubahan pola angin juga turut memengaruhi sensasi panas yang dirasakan masyarakat.

Sebelumnya, wilayah Kediri masih dipengaruhi monsun Australia yaitu angin dari selatan yang membawa udara kering. 

Namun kini, kelembapan udara mulai meningkat dan pembentukan awan semakin sering terjadi tanda bahwa transisi menuju musim penghujan tengah berlangsung.

"Kondisi ini wajar di masa pancaroba. Udara siang terasa sangat panas, tapi sore hingga malam bisa turun hujan. Inilah ciri khas masa peralihan," beber Satria.

BMKG Dhoho Kediri mengimbau masyarakat agar berhati-hati terhadap paparan sinar matahari langsung, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB saat posisi matahari berada di atas kepala dan tingkat radiasi ultraviolet (UV) sedang tinggi. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved