Senin, 4 Mei 2026

TBC di Kediri

Kasus TBC di Kediri Masih Tinggi, Dinkes Lakukan Tracing Massal di Gurah

Upaya menekan penularan Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Isya Anshori
TRACING - Ratusan warga menjalani tracing TBC dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri di Balai Desa Banyuanyar, Jumat (3/10/2025). 

TRIBUNMATARAMAN.COM I KEDIRI - Upaya menekan penularan Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri.

Seperti di wilayah Puskesmas Gurah sebanyak 150 warga menjalani tracing pada Jumat (3/10/2025). 

Mereka merupakan kontak erat pasien TBC khususnya keluarga serumah, penderita diabetes, anak-anak dengan gizi buruk, serta kelompok rentan lainnya.

Tracing dilakukan di Balai Desa Banyuanyar dengan melibatkan tim medis, kader kesehatan, serta dukungan lintas sektor. 

Kepala Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Kediri Retno Handayani menjelaskan bahwa kegiatan ini difokuskan pada kelompok paling berisiko.

"Yang kami prioritaskan adalah keluarga pasien TBC yang satu rumah, kemudian pasien dengan diabetes, ODHA, anak-anak yang berat badannya tidak naik selama tiga bulan, serta populasi khusus seperti pondok pesantren," terangnya.

Menurut Retno, Desa Banyuanyar termasuk wilayah dengan kasus TBC aktif. Karena itu, keluarga pasien yang belum pernah diperiksa diundang untuk menjalani skrining kesehatan paru. 

"Ketika ada satu pasien TBC, seluruh anggota keluarga wajib diperiksa. Siapa tahu mereka juga tertular," tambahnya.

Baca juga: Umur Harapan Hidup Warga Trenggalek Lebih Tinggi Dibandingkan Provinsi dan Nasional 

Proses tracing dimulai dengan pengisian formulir faktor risiko. Warga kemudian ditanya soal gejala yang dialami, seperti batuk lebih dari satu minggu, demam, atau riwayat kontak erat dengan pasien TBC.

Setelah skrining awal, warga diarahkan ke pemeriksaan klinis. Bagi yang menunjukkan gejala, dilakukan pengambilan dahak untuk diperiksa melalui Tes Cepat Molekuler (TCM). 

"Kalau pasien kesulitan mengeluarkan dahak, kami alihkan ke pemeriksaan rontgen menggunakan mobil rontgen keliling," jelas Retno.

Bagi keluarga serumah pasien TBC yang tidak bergejala, tetap diberikan Terapi Pencegahan TBC (TPT). 

"Meskipun negatif, tapi jika satu rumah dengan pasien, tetap harus diberi TPT sebagai upaya pencegahan," imbuhnya.

Data Dinas Kesehatan mencatat, kasus TBC di Kediri masih cukup tinggi.

Pada 2024 tercatat 19.397 suspek dengan 2.815 penemuan kasus (72 persen). Dari jumlah itu, 93 persen menjalani pengobatan dengan tingkat kesembuhan mencapai 91 persen. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved