Minggu, 3 Mei 2026

Berita Terbaru Kabupaten Kediri

Hardiknas di Kediri Jadi Momentum Doa Lintas Komunitas untuk Perdamaian Dunia 

Hardiknas di Kediri Jadi Momentum Doa Lintas Komunitas untuk Perdamaian Dunia 

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Rendy Nicko
TribunMataraman.com/Dok Situs Ndalem Pojok
DOA BERSAMA - Suasana Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Kediri di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok) Desa Pojok Kecamatan Wates, Jumat (1/5/2026) malam.  

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Kediri berlangsung dengan cara yang berbeda. Tidak sekadar upacara seremonial, momentum ini diisi dengan doa bersama lintas komunitas yang menyerukan perdamaian dunia.

Kegiatan tersebut digelar di Situs Persada Soekarno (Ndalem Pojok) Desa Pojok Kecamatan Wates Jumat (1/5/2026) malam. Lokasi ini dipilih karena memiliki nilai historis sebagai tempat masa kecil Soekarno.

Mengusung tema “Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia”, acara ini dihadiri berbagai elemen masyarakat mulai dari tokoh lintas komunitas, pegiat pendidikan, hingga pemerhati kebudayaan.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa sebagai bentuk refleksi nilai kebangsaan.

Baca juga: Pengurus Cabor Padel Resmi Terbentuk di Kabupaten Kediri, Target Lahirkan Atlet Menuju Porprov 2027

Pemilihan Ndalem Pojok dinilai sarat akan makna. Tempat ini diyakini menjadi ruang awal tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan kemanusiaan Bung Karno, yang kemudian melahirkan gagasan besar tentang persatuan dan perdamaian dunia.

Ketua panitia, Suhardono menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi sekaligus respons terhadap kondisi global yang tengah diwarnai konflik di berbagai belahan dunia.

"Spirit dari Ndalem Pojok inilah yang melahirkan gagasan besar Bung Karno tentang perdamaian dunia," jelasnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam diplomasi perdamaian, salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara berkembang.

Suhardono menilai di tengah situasi global yang memanas, Indonesia perlu kembali mengambil peran strategis sebagai penyeimbang dalam menciptakan perdamaian dunia.

Selain refleksi sejarah, kegiatan ini juga mengangkat pendekatan spiritual sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif.

"Doa bersama yang dilakukan tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk diplomasi spiritual yang diyakini mampu membawa energi positif bagi dunia," jelas Suhardono.

Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan Pesantren Jati Diri Bangsa Kushartono menyebut doa kolektif menjadi salah satu ikhtiar batin yang relevan di tengah kondisi global saat ini.

"Melalui doa bersama, kita memohon agar hati para pemimpin dunia dilunakkan dari ambisi konflik menjadi kesadaran untuk menciptakan perdamaian," ungkapnya.

Baca juga: Ahmad Panik Tangannya Bengkak Imbas Cincin, Warga Gurah Kediri Datangi Damkar

Kushartono juga menegaskan bahwa nilai spiritual yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 menjadi fondasi penting dalam membangun jati diri bangsa Indonesia.

Menurutnya, kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada aspek fisik, tetapi juga pada kedekatan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved