Kamis, 4 Juni 2026

Harga Telur Anjlok

Harga Telur Anjlok, Peternak di Blitar Berdarah-darah Agar Tetap Bertahan

Harga Telur Anjlok, Peternak di Blitar Berdarah-darah Agar Tetap Bertahan

Tayang:
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Rendy Nicko
TribunMataraman.com
HARGA TELUR ANJLOK - Yoga, salah satu peternak ayam petelur sedang memanen telur di kandangnya di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Rabu (3/6/2026).  

Populasi ayam milik Yoga sekitar 3.500 ekor dengan kapasitas produksi sekitar 1,5 kuintal per hari. 

Ia baru tiga tahun ini berternak ayam petelur. Ia mengelola sendiri peternakan ayam petelur miliknya. 

"Kebetulan, peternakan ini saya kelola sendiri, saya tidak pakai anak kandang. Kondisi seperti ini, tenaganya harus ekstra, karena juga kirim telur sendiri," ujarnya. 

Selama jadi peternak, Yoga sudah pernah mengalami kondisi seperti ini. Tapi, dulu, harga jagung yang mahal. 

Sekarang, harga jagung dapat ditekan dengan program jagung SPHP dari pemerintah yang harganya Rp 5.300 per kilogram. 

Baca juga: Adu Banteng Pemotor di Nganjuk, Satu Orang Meninggal Dunia

Yoga mendapat jatah jagung SPHP sekitar 10 ton untuk tiga bulan dengan populasi ayam 3.500 ekor.

"Sekarang yang naik harga konsentrat. Dan harga telur juga anjlok. Kondisi seperti ini peternak tidak dapat apa-apa, malah rugi," katanya.

Yoga berharap, pemerintah menjaga harga pakan. Harga pakan naik tidak apa-apa, tapi harga telur juga naik.

"Kebijakan impor bahan baku pakan satu pintu juga jadi masalah bagi peternak kecil. Semua bahan baku pakan impor harganya yang mengatur pemerintah. Harganya jadi mahal," katanya. 

Ia juga berharap, serapan telur dari peternak rakyat untuk program makan bergizi gratis (MBG) dioptimalkan. 

"Sekarang dapur SPPG di mana-mana, tapi tidak ada yang mengambil telur dari peternak rakyat," pungkasnya. 

(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved