Kamis, 4 Juni 2026

Harga Telur Anjlok

Harga Telur Anjlok, Peternak di Blitar Berdarah-darah Agar Tetap Bertahan

Harga Telur Anjlok, Peternak di Blitar Berdarah-darah Agar Tetap Bertahan

Tayang:
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Rendy Nicko
TribunMataraman.com
HARGA TELUR ANJLOK - Yoga, salah satu peternak ayam petelur sedang memanen telur di kandangnya di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Rabu (3/6/2026).  

TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR - Peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar menjerit dengan kondisi turunnya harga telur belakangan ini. 

Sekarang, harga telur di tingkat peternak kisaran Rp 21.000 per kilogram sampai Rp 21.300 per kilogram. 

Seperti diungkapkan Yoga Dwi Sasana Putra (27), peternak ayam petelur di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Rabu (3/6/2026). 

Menurutnya, kondisi peternak rakyat berdarah-darah dengan kondisi harga telur dari kandang saat ini di kisaran Rp 21.000 per kilogram sampai Rp 21.300 per kilogram.

Baca juga: Penjualan Jersey Piala Dunia 2026 Anjlok Lebih dari 50 Persen, Pedagang Kediri Mengeluh

"Dengan harga itu peternak berdarah-darah, cuma bisa bertahan. Mau ekspansi tidak berani, intinya fokus menjaga produksi," kata Yoga. 

Dikatakannya, dengan harga telur dari kandang Rp 21.000 per kilogram, produksi tidak boleh di bawah 80 persen dari total populasi. 

Jika produksi di bawah 80 persen, peternak pasti akan gulung tikar. 

"Kalau harga segitu, lalu produksinya di bawah 80 persen, peternak pasti kalang kabut. Peternak tidak dapat apa-apa, jelas rugi dan terancam gulung tikar," ujarnya.

Apalagi, kata Yoga, harga pakan konsetrat juga naik tinggi. Sekarang, harga konsetrat tembus Rp 420.000 per zak isi 50 kilogram. 

Sebelumnya, harga konsetrat di angka Rp 360.000 per zak isi 50 kilogram.

"Harga pakan juga naik. Harga kosentrat naik dari Rp 360.000 sekarang menjadi Rp 420.000 per 50 kilogram," katanya.

"Seharusnya, dengan harga pakan segitu, harga telur di kandang paling tidak Rp 25.500-Rp 26.000 per kilogram. Itu setelah dihitung susut kandang, susut ayam, dan biaya operasional," lanjutnya.

Untuk menutup biaya operasional agar tidak rugi, Yoga harus menjual telur langsung ke pasar.

Ia tidak menjual produksi telur dari kandangnya ke peternak. 

"Agar tidak rugi, saya cari pasar lain, tidak diambil tengkulak, tapi langsung dikirim ke pasar dengsn harga bisa Rp 22.000-Rp 23.000 per kilogram," katanya. 

Populasi ayam milik Yoga sekitar 3.500 ekor dengan kapasitas produksi sekitar 1,5 kuintal per hari. 

Ia baru tiga tahun ini berternak ayam petelur. Ia mengelola sendiri peternakan ayam petelur miliknya. 

"Kebetulan, peternakan ini saya kelola sendiri, saya tidak pakai anak kandang. Kondisi seperti ini, tenaganya harus ekstra, karena juga kirim telur sendiri," ujarnya. 

Selama jadi peternak, Yoga sudah pernah mengalami kondisi seperti ini. Tapi, dulu, harga jagung yang mahal. 

Sekarang, harga jagung dapat ditekan dengan program jagung SPHP dari pemerintah yang harganya Rp 5.300 per kilogram. 

Baca juga: Adu Banteng Pemotor di Nganjuk, Satu Orang Meninggal Dunia

Yoga mendapat jatah jagung SPHP sekitar 10 ton untuk tiga bulan dengan populasi ayam 3.500 ekor.

"Sekarang yang naik harga konsentrat. Dan harga telur juga anjlok. Kondisi seperti ini peternak tidak dapat apa-apa, malah rugi," katanya.

Yoga berharap, pemerintah menjaga harga pakan. Harga pakan naik tidak apa-apa, tapi harga telur juga naik.

"Kebijakan impor bahan baku pakan satu pintu juga jadi masalah bagi peternak kecil. Semua bahan baku pakan impor harganya yang mengatur pemerintah. Harganya jadi mahal," katanya. 

Ia juga berharap, serapan telur dari peternak rakyat untuk program makan bergizi gratis (MBG) dioptimalkan. 

"Sekarang dapur SPPG di mana-mana, tapi tidak ada yang mengambil telur dari peternak rakyat," pungkasnya. 

(Samsul Hadi/TribunMataraman.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved