Kamis, 7 Mei 2026

Berita Terbaru Kota Surabaya

Cuaca Ekstrem di Surabaya Diperkirakan Hingga 10 Januari, Waspada Bencana Hidrometeorologi

BMKG Juanda memprediksi Surabaya akan menghadapi cuaca ekstrem hingga 10 Januari 2025, Pemkot Surabaya imbau masyarakat waspada terhadap bencana alam.

Tayang:
Editor: eben haezer
IST
Petugas dari Pemkot Surabaya mempercepat aliran air dengan mengerahkan personil maupun prasarana saat Surabaya dilanda hujan deras akhir Desember silam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi Surabaya akan menghadapi cuaca ekstrem hingga 10 Januari 2025. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi Surabaya akan menghadapi cuaca ekstrem hingga 10 Januari 2025. 

Ada sejumlah potensi bencana hidrometeorologi yang harus diwaspadai.

Cuaca ekstrim di Surabaya dipengaruhi adanya fenomena gelombang atmosfer seperti Low Frekuensi  yang melintas. 

Fenomena ini mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan penghujan di beberapa wilayah.

Selain itu, La Nina juga menjadi salah satu faktor peningkatan potensi bencana hidrometeorologi dibandingkan periode sebelumnya.

"Hingga 10 Januari, curah hujan cukup tinggi di Surabaya," ujar Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan di Surabaya.

Selama kurun waktu tersebut, Surabaya berpotensi dilanda bencana hidrometeorologi. 

Di antaranya, hujan lebat, banjir, petir, puting beliung hingga hujan es.

Angin kencang juga mengakibatkan tumbangnya pohon, rumah rusak, hingga kecelakaan lalu lintas. 

"Beberapa potensi bencana hidrometeorologi lainnya masih memungkinkan," ucap Taufiq.

Nantinya, intensitas hujan yang akan terjadi di Kota Surabaya akan terjadi mulai sedang hingga lebat, untuk durasinya bergantung pada pertumbuhan awan.

"Januari dan Februari adalah puncak musim hujan, bulan Desember lalu sudah kita lewati. Peringatan dini cuaca ekstrem masih terus akan kami update,"  jelas Taufiq.

Masyarakat dapat diimbau untuk meminimalisir adanya kerugian yang ditimbulkan dari potensi bencana hidrometeorologi tersebut.

Baik untuk kerugian materil maupun korban jiwa dan luka-luka. 

"Potensi kerugian ini harus diantisipasi. Terutama kerugian terhadap manusia," harapnya.

Pemkot Surabaya mengantisipasi cuaca ekstrim dengan menerjunkan sejumlah sarana dan prasarana. 

Di antaranya, normalisasi box culvert  yang saat ini tersebar di seluruh kawasan sehingga akan memudahkan aliran air hujan.

Sebanyak 315 pompa air di 77 lokasi disiagakan untuk mempercepat aliran air menuju saluran besar. 

"Pompa-pompa kami bisa menyedot 513 meter kubik air per detik untuk dibuang ke laut," kata Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Syamsul Hariadi saat dikonfirmasi.

"Kalaupun ada genangan yang tidak bisa dihindari, kami upayakan tidak akan lama. Sebab, Standar Operasional (SOP) yang kami terapkan yaitu kalau sudah mendung rumah pompa akan dinyalakan," jelasnya.

Rumah pompa dan saluran menjadi andalan Surabaya dalam mengantisipasi genangan. 

Optimalisasi keduanya pun telah dilakukan sejak musim kemarau lalu.

Sekalipun demikian, Syamsul tetap mengingatkan masyarakat untuk turut mendukung kinerja pompa air. 

Di antaranya, yang dapat dilakukan adalah dengan tidak membuang sampah pada saluran air.

Selain dapat memenuhi saluran, sampah juga dapat mengakibatkan pompa air rusak. 

"Musuhnya pompa itu sampah, ketika terbelit sampah maka pompanya tidak akan bisa memutar," jelasnya.

Data pihaknya, sebanyak dua dari lima pompa di Kalisari rusak karena sampah. 

Akibatnya, penyedotan air menjadi tidak maksimal.

Selain itu, Pemkot juga menyiagakan pintu air untuk mengantisipasi banjir rob di pesisir Surabaya. 

Ketika banjir rob datang, air dari laut tidak masuk ke pemukiman.

"Semua wilayah di Surabaya sudah ada pintu air, kecuali tiga kawasan yaitu Kalianak, Kali Sememi, dan Kali Krembangan. Saat ini, masih kami persiapkan," jelas Syamsul.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya turut menyiapkan personel untuk melakukan mitigasi bencana.

Petugas BPBD juga disiagakan pada 11 titik yang rawan mengalami banjir rob di wilayah pesisir.

"Karena alam ini hebat, maka kita juga harus maksimal dalam mengantisipasi potensi bencananya," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro.

Selama periode cuaca ekstrem, Agus mengimbau agar masyarakat meminimalisir kegiatan di luar rumah. 

Terutama, aktivitas yang berdekatan dengan saluran.

"Kalau hujan, hindari memancing atau berenang di sungai. Serta, jangan berteduh di bawah reklame atau bangunan yang mudah runtuh. Selain itu, cek atap rumah karena banyak yang ambrol ketika hujan disertai angin," pungkasnya. 

Apabila masyarakat mengalami keadaan kegawat-daruratan, pihaknya juga mengimbau agar segera menghubungi Command Center 112 untuk penanganan lebih lanjut. 

(Bobby C. Koloway/tribunmataraman.com)

editor: Intan Nur Azizah

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved