Pilgub Jatim 2024

Kampanye di Trenggalek, Cagub Jatim Tri Rismaharini Soroti Wacana Kemasan Rokok Polos

Saat kampanye di pabrik rokok di Trenggalek, Cagub Jatim Tri Rismaharini mengangkat wacana kemasan rokok polos. Ini pendapatnya.

Penulis: Sofyan Arif Chandra | Editor: eben haezer
sofyan arif candra
Cagub Jatim nomor urut 3, Tri Rismaharini saat menyapa para pekerja pabrik rokok di Trenggalek 

TRIBUNMATARAMAN.COM | TRENGGALEK - Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3, Tri Rismaharini berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).

Salah satu yang menjadi fokus Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini, adalah dengan memberangus peredaran rokok ilegal.

Peredaran rokok ilegal tersebut akan menurunkan daya jual rokok bercukai yang akan berujung pada kepailitan.

Baca juga: Kampanye 3 Cagub Jatim Hari ini: Risma ke Pabrik Rokok, Khofifah ke Perkebunan, Luluk ke Pasar

"Sangat banyak warga yang menggantungkan hidupnya pada tembakau dan olahannya, mulai dari petani tembakau, perusahaan rokok, hingga pekerja SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang bekerja di pabrik rokok itu," kata Risma, Selasa (22/10/2024).

Mantan Wali Kota Surabaya tersebut juga menyoroti wacana kemasan rokok polos yang sedang digodok oleh Kementerian Kesehatan.

Menurutnya, kebijakan tersebut hanya akan memuluskan peredaran rokok non cukai karena kemasan yang semakin gampang ditiru.

"Plain packaging ini kemungkinan akan menghancurkan rokok bercukai, yang kita takutkan persaingannya akan menjadi tidak sehat karena ada rokok ilegal yang bisa masuk (ke pemasaran)," tambahnya.

Menurut Risma, hal tersebut akan mengurangi pendapatan negara dari cukai yang dampaknya juga akan mengurangi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk berbagi pihak termasuk untuk petani tembakau dan pekerja SKT.

Padahal mantan Menteri Sosial tersebut berencana akan menaikkan insentif untuk petani tembakau dan pekerja yang bergerak di IHT.

"Petani dan pekerja SKT ini telah berkontribusi menghasilkan pendapatan negara dari cukai rokok, sehingga kesejahteraannya juga harus kita perhatikan," jelasnya.

Risma berharap rencana kebijakan tersebut diurungkan oleh Kemenkes karena keberadaan pabrik rokok SKT berkontribusi besar dalam mengurangi angka pengangguran di Jawa Timur.

"Tidak semua bisa menjadi wirausaha dan menciptakan pekerjaan sendiri, nah yang sudah jalan seperti pabrik rokok ini jangan diganggu dulu karena saat ini banyak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) juga di sektor lain," pungkasnya.

(sofyan arif candra/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

 

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved