Keracunan Massal di Tulungagung
Cappucino Cincau Diduga Jadi Penyebab Keracunan Massal di MTsN Tulungagung
Minuman Cappucino Cincau diduga menjadi penyebab belasan siswa MTsN 4 Tulungagung mengalami keracunan massal.
Penulis: David Yohanes | Editor: eben haezer
TRIBUNMATARAMAN.COM - Lima siswi MTsN 4 Tulungagung, korban keracunan massal sudah diperbolehkan pulang usai menjalani rawat inap di Puskesmas Bandung, Kabupaten Tulungagung, Jatim.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung menyimpulkan, pemicu keracunan adalah minuman cappucino cincau yang dijual di depan MTsN yang ada di Jalan Bandung-Durenan Desa Suruhan Lor ini.
Sedangkan minuman Teh Poci yang sempat dicurigai tidak terbukti sebagai pemicu keracunan.
Baca juga: 5 Siswa MTsN 4 Tulungagung Dirawat karena Keracunan Massal, Minuman Ini Diduga Jadi Pemicu
“Seluruh korban ternyata minum cappuccino cincau, bukan Teh Poci. Karena itu sampel yang diuji adalah yang cappuccino cincau,” ungkap Plh Kabid P2P Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani.
Sampel telah dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya dan RSUD dr Iskak Tulungagung.
Desi menerangkan, minuman cappucino cincau ini diproduksi warga Bandung dan dikemas dalam gelas plastik dan di-sealer.
Produk ini lalu dimasukkan dalam kotak styrofoam berisi es untuk mengawetkan.
Dinkes menemukan produk ini dijual di seluruh wilayah eks Kawedanan Campurdarat, mulai Kecamatan Campurdarat, Bandung, Besuki dan Pakel.
Selain di MTsN 4 Tulungagung, produk yang sama juga dijual di depan SMPN 1 Bandung.
Selebihnya produk ini dijual di warung-warung yang tersebar di empat kecamatan itu.
“Karena itu kami melakukan mitigasi ke semua wilayah eks Kawedanan. Hasilnya tidak ada temuan kasus lain,” sambung Desi.
Dari penjelasan pembuat, produk yang tidak laku dimasukkan dalam freezer untuk dijual lagi keesokan harinya.
Di MTsN 4 Tulungagung ada 8 produk, tujuh di antaranya telah terjual.
Sementara di SMPN 1 Bandung ada 19 gelas, 17 di antaranya terjual.
“Kita tidak bisa memastikan, produk yang lama dan produk yang baru. Karena semuanya bercampur,” tutur Desi.
Pembuat cappucino cincau ini juga membuat produk lain berupa aneka kue.
Khusus produk cappucino cincau ini diminta untuk menghentikan produksi sampai hasil laboratorium keluar.
Sedangkan produk lain seperti kue masih bisa diproduksi dan dipasarkan seperti biasa.
“Kami juga meminta para bidan desa di eks Kawedanan Campurdarat untuk melakukan pemantauan jika kemungkinan ada kasus yang belum diketahui,” pungkas Desi.
Sebelumnya ada 15 siswa MTsN 4 Tulungagung yang mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi teh dan cappucino cincau.
Mereka membeli minuman itu di depan sekolah selepas olahraga pada Sabtu (15/9/2023) pagi.
Selang 10 menit mereka mengalami gejala keracunan, seperti mual, pusing dan muntah-muntah.
Dari 15 siswa itu, 5 dinyatakan tidak bergejala, 5 rawat jalan dan 5 siswi menjalani rawat inap.
(David Yohanes/tribunmataraman.com)
editor: eben haezer
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.