Konflik Unisla Lamongan

Buntut Konflik di Unisla Lamongan, Mahasiswa Unisla Gelar Unjuk Rasa dan Ditemui 2 Kubu Rektor

Ratusan mahasiswa Unisla Lamongan menggelar unjuk rasa menolak dualisme kepemimpinan Unisla. Menariknya, demo mereka ditemui oleh dua kubu rektor

Editor: eben haezer
ist
Unjuk rasa mahasiswa Unisla Lamongan yang menuntut dihentikannya dualisme kepentingan di kampus tersebut 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Ratusan mahasiswa Universitas Islam Lamongan (Unisla) menggelar unjuk rasa sebagai respon terhadap konflik dualisme kepemimpinan di kampus tersebut, Rabu (17/5/2023).

Para mahasiswa dari sejumlah fakultas ini menggelar demo dengan long march dari depan kantin menuju gedung Kampus D hingga gedung kampus A. 

Seperti demo umumnya, para mahasiswa membentangkan sejumlah spanduk dan karton rentang dengan segala tuntutannya.

Baca juga: Babak Baru Konflik Unisla Lamongan, Pendiri Wakafkan Unisla ke Nahdlatul Ulama

Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) Unisla menuntut agar rektorat segera menyelesaikan dualisme kepimpinan atas keputusan dua yayasan yang menghasilkan 2 Pj rektor Unisla, yakni Dody Eko Wijayanto dan Abdul Ghofur.

Menariknya, para mahasiswa ini pun ditemui oleh dua pj rektor tersebut. 

Dody Eko Wijayanto didampingi Ketua yayasan Wardoyo dan pengurus.

Kemudian Pj Rektor Unisla, Abdul Ghofur yang diangkat Ketua yayasan Bambang Eko Moeljono, didampingi 3 orang loyalisnya.

Sebelum berbicara di depan para mahasiswa, mereka mendengarkan orasi dan tuntutan perwakilan mahasiswa yang disampaikan bergiliran.

Ada 5 tuntutan yang disampaikan mahasiswa.

Pertama, menolak dualisme kepemimpinan di Unisla.

Kedua, mengecam keras intimidasi dan intervensi kepada mahasiswa agar berpihak pada salah' satu pihak.

Ketiga, memberikan kepastian pada mahasiswa terhadap edaran akademik dengan jadwal yang konkrit.

Keempat, rektorat harus memberikan kepastian dan kejelasan terkait pembayaran administrasi agar tidak menyebabkan kebingungan bagi mahasiswa dalam prosedur administrasi.

Serta kelima, menuntut transparansi pengembalian dana KIP.

Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Unisla, Adisti Prisma Putri menyampaikan di depan dua kubu yang berseteru, persoalan di Unisla, yakni adanya dualisme kepemimpinan sangat merugikan mahasiswa.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved