Erupsi Gunung Semeru

Trauma Tahun Lalu Belum Sirna, Mita Kembali Merasakan Ngerinya Erupsi Gunung Semeru

Belum hilang ingatannya pada erupsi gunung Semeru tahun 2021 lalu, Mita Rosalia (35) kembali harus merasakan erupsi gunung tersebut, Minggu (4/12)

Editor: eben haezer
ist
Warga terdampak erupsi Gunung Semeru berlindung di pengungsian Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. 

TRIBUNMATARAMAN.COM - Belum hilang ingatannya pada erupsi gunung Semeru tahun 2021 lalu, Mita Rosalia (35) kembali harus merasakan erupsi gunung tersebut, Minggu (4/12/2022).

Peristiwa kali ini membuka kembali rasa traumatis dalam benak Mita setelah pernah mengalami dampak letusan Gunung Semeru setahun silam.

Mita begitu panik mendengar kabar erupsi Semeru pada dini hari tadi. Saat itu Mita tengah terlelap tidur.

"Panik sekali begitu mendengar kabar erupsi Semeru. Saya kemudian membawa dua anak saya untuk menyelamatkan diri," ujar Mita ketika ditemui di pengungsian Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Baca juga: Gunung Semeru Erupsi, Lebih Dari 2 Ribu Orang Mengungsi di 12 Titik Pengungsian

Mita kemudian bergegas menggendong anaknya yang masih 3 bulan. Di tangan kanannya anak pertama Mita yang berusia 10 tahun menggenggam tangannya begitu kuat.

Saat itu, ia sedang tidak bersama suaminya.

"Nangis takut, kabur cari perlindungan,saya hanya mikir nyawa selamat," ungkapnya sembari menceritakan jika dirinya hanya membawa tas berisi dokumen penting.

Wanita berkerudung ini mengaku detik-detik terjadinya erupsi Semeru begitu menakutkan.

"Jelas terdengar bunyi gemuruh ledakan begitu erupsi terjadi," ungkapnya.

Mita merupakan salah satu dari sekian banyak warga yang sempat kehilangan tempat tinggal. Dulu, Mita tinggal di Curah Kobokan, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Lantaran rumahnya lenyap, Mita tinggal di Huntara Bumi Damai Semeru, Candipuro.

"Saya tinggal di Huntara karena sebelumnya rumah saya hancur. Jadi sudah tidak bisa ditinggali kembali. Sekarang tinggal di Huntara," kenangnya.

Kini, Mita hanya bisa berdoa sembari berharap rasa traumatisnya mereda.

"Saya berharap tidak ada erupsi susulan kembali dan bisa kembali ke rumah. Saya juga bingung mau tinggal di mana kalau tidak di rumah itu (Huntara)," keluhnya.

Di pengungsian, Mita bersama para pengungsi lain membutuhkan bantuan susu dan popok bagi anak bayinya.

"Sekarang bantuan yang sudah kami dapat makanan dan minuman. Kami berharap dan membutuhkan susu dan popok untuk para bayi di sini," harapnya.

(erwin wicaksono/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved