Pembunuhan di Jember
Setelah Menghabisi Nyawa Korbannya, Tukang Servis TV di Jember Bawa Kabur Uang Rp 13,2 Juta
Hafid, tukang servis TV yang membunuh seorang perempuan di Jember, sempat membawa kabur uang Rp 13,2 juta setelah menggorok leher korbannya
Reporter: Sri Wahyunik
TRIBUNMATARAMAN.com | JEMBER - Hafid Prasetyo Hadi, pelaku pembunuhan terhadap Prita Hapsari atau Ita (48), perempuan warga Jl Wijayakusuma, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, kabupaten Jember, mengaku khilaf saat dengan sadis membunuh korbannya.
Pemuda dari Desa Bedadung, Kecamatan Pakusari, kabupaten Jember itu mengaku bahwa uang menjadi alasannya membunuh Ita.
Hafid mengaku membutuhkan uang untuk membayar utang.
"Informasi dari pelaku, dia membutuhkan uang untuk membayar utang," ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jember, AKP Komang Yogi Arya Wiguna, Rabu (19/1/2022).
Baca juga: Tukang Servis TV yang Menghabisi Nyawa Guru Les Piano di Jember Terancam Penjara Seumur Hidup
Hafid menduga Ita memiliki uang banyak. Dugaan itu dikuatkan dengan permintaan pembelian televisi yang harganya lebih dari Rp 2 juta. Hafid merupakan tukang servis barang elektronik. Ketika itu, dia diminta memperbaiki televisi di rumah keluarga Ita.
Namun rupanya televisi itu tidak bisa diperbaiki, dan Hafid menyarankan membeli baru. Hafid menyebut harga Rp 2 juta untuk membeli televisi baru. Ita meminta harga lebih dari Rp 2 juta.
Dari situlah, Hafid menduga jika Ita memiliki uang banyak. Akhirnya dia pun melontarkan keinginannya untuk meminjam sejumlah uang kepada Ita.
Namun Ita menjawab, sebaiknya membeli televisi baru terlebih dahulu, sebelum pinjam uang.
"Korban sudah memberikan uang Rp 2 juta, uang untuk pembelian televisi kepada pelaku," imbuh Yogi.
Setelah itu terjadi cekcok. Cekcok terjadi di depan kamar mandi. Ketika itu, Ita baru selesai mandi, dan (maaf) membungkus tubuhnya dengan selembar jarik.
Di tengah cekcok, Hafid meraih pisau yang berada di sekitar tempat tersebut. Dia pun mengarahkan pisau ke arah leher Ita. Leher Ita sempat tertusuk pisau.
"Awalnya tidak sengaja terkena pisau, tapi saya khilaf, jadi kebablasan (menggorok leher Ita)," kata Hafid.
Hafid mendorong Ita ke dalam kamar mandi. Di kamar mandi itulah, Hafid menggorok leher Ita hingga akhirnya meninggal dunia.
Melihat Ita sudah meninggal dunia, Hafid mengambil sejumlah barang dari rumah tersebut. Dia mengambil uang Rp 13,2 juta.
Uang itu ditemukan polisi ketika olah TKP. Rincian lokasi penemuan uang yakni Rp 10,8 juta di dalam tas ransel milik Hafid, dan Rp 2,8 juta ditemukan berceceran di halaman rumah Ita, ketika warga memergoki Hafid dan melumpuhkannya.
Uang itu semuanya diambil dari rumah Ita. Uang tersebut menjadi salah satu barang bukti dalam perkara itu. Selain uang, Hafid juga sempat mengambil ponsel milik Ita.
"Saya menyesal, saya khilaf," imbuh Hafid.
Perbuatan Hafid terhadap Ita, diketahui oleh ibunda Ita, Ny Budi Asmararini (76). Ny Rini tidak bisa berbuat banyak karena memang sudah sepuh, dan sakit. Dia hanya bisa menjerit. Namun Hafid sempat memukulnya, dan menutup mulut Rini memakai plester.
Kini Rini masih dirawat di rumah sakit. Begitu juga dengan dua orang warga yang melumpuhkan Hafid, yakni Benaya Sangkakala dan Juan Felix. Benaya kena tusukan pisau di leher, sedangkan Juan terkena sayatan di paha.
Dua pemuda itu melumpuhkan Hafid ketika hendak kabur dari rumah tersebut.