Breaking News:

Penampakan Bripda Randy Bagus yang Kini Berbaju Tahanan Setelah Memaksa Mahasiswi di Malang Aborsi

Randy Bagus, polisi yang memaksa NW, pacarnya melakukan aborsi, kini telah ditahan dan menunggu hukuman untuknya.

Editor: eben haezer
Ist
Randy Bagus saat berada di tahanan Polda Jatim 

Reporter: Luhur Pambudi

TRIBUNMATARAMAN.com | SURABAYA-Bripda Randy Bagus (21), polisi yang disangkutkan dalam peristiwa bunuh dirinya seorang mahasiswi PTN di Malang, telah ditahan.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Polda Jatim, Pria kelahiran Pandaan, Pasuruan itu, terbukti terlibat dalam upaya aborsi sebanyak dua kali atas kehamilan yang dialami pacarnya, NW, pada Maret 2020 dan Agustus 2021.

Dua kali upaya aborsi tersebut, diduga kuat menyebabkan NW mengalami tekanan mental, hingga membuat dirinya nekat mengakhiri hidup dengan cara menenggak cairan racun.

Aksi nekat mahasiswi jurusan Sastra Inggris di sebuah kampus negeri terkemuka di Kota Malang itu, dilakukan di dekat makam ayahandanya, di permakaman Dusun Sugihan, Desa Japan, Sooko, Mojokerto, Kamis (2/12/2021) sore.

Atas perbuatannya, Randy bakal dikenai sanksi etik kepolisian secara internal, Pasal 7 dan 11, Perkap Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik. Dengan ancaman sanksi berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).

"Iya, ancaman kode etiknya itu, PTDH, maksimalnya itu," ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko  saat dihubungi, Minggu (5/12/2021).

Gatot menambahkan, pelaku juga bakal dikenai Pasal 348 Jo Pasal 55 KUHP karena dengan sengaja menggugurkan kandungan atau mematikan janin, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Karena pelaku mengakui perbuatannya di hadapan penyidik, bahwa dirinya melakukan perbuatan aborsi tersebut menggunakan sarana obat khusus penggugur kandungan.

Pada kehamilan pertama, NW meminum obat aborsi di dalam kosannya di Kota Malang. 

Kemudian pada kehamilan kedua, NW meminum obat aborsi saat kandungan berusia empat bulan, di sebuah warung sate di kawasan Mojokerto hingga sempat mengalami pendarahan. 

"Iya, (pelaku) juga diproses secara pidana," ungkap mantan Kasat Sabhara Polrestabes Surabaya itu.

"Kalau memang harus kode etik. Ya kode etik dulu yang harus kita laksanakan. Baru pidananya kita kuatkan. Itu secepatnya, proses," jelasnya.

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved