Sabtu, 16 Mei 2026

Berita Terbaru Kabupaten Trenggalek

Puncak Trenggalek Menari Malam Ini, Refleksi Diri ala Kelakar Akar

Trenggalek Menari Angkat Tema Kelakar Akar, Puncaknya Malam Ini di Huko

Tayang:
Penulis: Madchan Jazuli | Editor: Rendy Nicko
TribunMataraman.com/Dok Trenggalek Menari
TRENGGALEK MENARI - Pertunjukan Trenggalek Menari sangat ditunggu-tunggu, akan menampilkan 21 dari berbagai utusan mulai sanggar tari, paguyuban hingga dari SLB di Trenggalek. 

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Seni Tari di Kabupaten Trenggalek terus menunjukkan angin segar dengan berbagai event. 'Trenggalek Menari' kali ini sudah memasuki tahun kelima bakal menampilkan pertunjukan malam ini sebagai acara puncak.

Koordinator Panitia Trenggalek Menari, Rhesajaya menerangkan rangkaian acara sudah dimulai sejak 9 Mei 2026. Ada workshop yang bertajuk Nyantrik #1 dengan narasumber Puri Senjani.

"Beliau berdomisili di Jakarta kita undang untuk menjadi pemateri untuk Nyantrik 1 Trenggalek Menari," ujar Reshajaya kepada penulis, Jum'at (15/5/2026).

Lalu, 10 Mei 2026 berada di deretan para pedagang di Car Free Day untuk promosi event, promosi merchandise. Pihaknya berkolaborasi dengan Sanggar Kinanti yang mengisi tari tarian. 

"Tanggal 15 kita ada di puncak acaranya yaitu pertunjukan karya yang bertemakan Arsitektur Jiwa," ulasnya.

Baca juga: Program MBG di Trenggalek Serap 3.000 Tenaga Kerja Lokal

Lalu, di tanggal 16 Mei 2026 sore ada Yoga. Pihaknya mengambil yoga karena yoga masih berbicara tentang tubuh untuk merefleksikan diri sendiri.

"Bagaimana tubuh yang harus merefleksikan diri kita tubuh sebagai media itu sore. Lanjut 16 Mei 2026 malamnya kita pertunjukan karya," paparnya.

Jaya mengaku untuk konsep di tahun ini kita mengambil konsep 'Kelakar Akar'.

Ia membeberkan arti kelakar itu adalah sebuah candaan atau gurauan. Akar menurutnya adalah pondasi untuk kita tumbuh, untuk terus berkembang.

Lalu, ia melanjutkan Kelakar Akar sendiri menggambarkannya sebuah tertawa atau candaan tanpa mengingat akar, ibarat membangun rumah diatas pasir. 

Jaya mengaku pondasi rumah tersebut rapuh dan saat badai datang candaan tertawa. Ini juga sebuah refleksi diri untuk selalu berfikir lebih jauh.

"Kita mengingat kembali nilai yang kita pikir sebelum melempar candaan tawa itu harus melihat dulu. Kita sekarang tumbuh berkembang juga harus mengingat akar. Misal sesimpel itu," bebernya.

Dirinya mengaku dari segi keseimbangan kapan harus menjadi jenaka, kapan harus menjadi berdiri yang kokoh dari prinsip yang serius. 

"Mungkin kalau dilihat dari kesadaran atau prespektif kesadaran kita harus menyadari dibalik statmen setiap kelakar atau candaan harus ada tanggungjawab moral terhadap mereka yang mendengarkan," ulasnya.

Jaya mengaskan bahwa akar-akar tersebut yang memulai mengawali untuk tumbuh. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved