Senin, 13 April 2026

Jejak Pesantren Mataraman

Daftar Lengkap 4 Pesantren Sepuh di Blitar dan Kediri Berusia Lebih dari 1 Abad

Inilah daftar 4 pondok pesantren sepuh berusia lebih dari 1 abad di kawasan Kabupaten Kediri,hingga Blitar.

Editor: faridmukarrom
Istimewa/Sosial Media X dan Instagram Official Ponpes Nurul Huda
Inilah daftar 4 pondok pesantren sepuh berusia lebih dari 1 abad di kawasan Kabupaten Kediri,hingga Blitar. Foto sisi kiriPondok Pesantren Nurul Huda Blitar dan Sisi Kanan Pondok Pesantren Mahir Arriyad Ringinagung 

Ringkasan Berita:
  • Blitar dan Kediri Raya merupakan pusat pesantren sepuh di Jawa Timur yang telah berusia lebih dari satu abad. 
  • Empat pesantren tertua yang masih aktif hingga kini adalah Pondok Pesantren Nurul Huda Blitar, Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Mahir Arriyad Ringinagung, dan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri
  • Keempatnya tidak hanya menjadi pusat pendidikan Islam, tetapi juga saksi sejarah perjuangan dakwah, pendidikan, dan kebangsaan. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | KEDIRI - Blitar dan Kediri Raya dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pendidikan Islam tertua di Indonesia.

Wilayah ini memiliki sejumlah pondok pesantren sepuh yang telah berdiri sejak lebih dari satu abad lalu dan hingga kini tetap eksis mencetak generasi santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Jawa Timur memang menjadi tanah kelahiran banyak pesantren besar, namun Kediri dan Blitar memiliki posisi istimewa dalam sejarah panjang dunia pesantren.

Di daerah ini, pendidikan Islam berkembang seiring perjuangan dakwah, perlawanan terhadap penjajahan, serta pembentukan karakter kebangsaan.

Berikut daftar empat pesantren tertua di Blitar dan Kediri yang usianya telah melampaui 100 tahun dan masih aktif hingga sekarang.

1. Pondok Pesantren Nurul Huda Blitar

Pondok Pesantren Nurul Huda terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Pesantren ini diyakini sebagai salah satu titik awal penyebaran Islam di wilayah Blitar.

Didirikan pada pertengahan abad ke-19 oleh Syekh Abu Hasan, pesantren ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Syekh Abu Hasan diketahui memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Diponegoro, bahkan pesantren ini pernah menjadi tempat perlindungan bagi sekitar 158 prajurit Diponegoro saat Perang Jawa.

Inilah daftar dua pesantren di Blitar tak hanya menjadi pusat dakwah, tetapi juga saksi bisu perjuangan melawan penjajah.
Inilah daftar dua pesantren di Blitar tak hanya menjadi pusat dakwah, tetapi juga saksi bisu perjuangan melawan penjajah. (TribunMataraman.com/Sosial Media X)

Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih terawat dengan baik. Bangunan masjid tua, makam para ulama, kolam kuno, serta rumah-rumah lama tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya.

Salah satu peninggalan bersejarah adalah kolam wudu yang konon pernah digunakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang tercatat memiliki hubungan guru dan murid dengan Syekh Abu Hasan. Kolam dan masjid dihubungkan oleh jalur batu berjumlah 99 buah yang melambangkan Asmaul Husna.

Kini, Pondok Pesantren Nurul Huda tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi destinasi ziarah religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

 2. Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

Pondok Pesantren Lirboyo merupakan salah satu pesantren paling terkenal di Indonesia. Berdiri pada tahun 1910 di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, pesantren ini didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manab).

Selama lebih dari satu abad, Lirboyo dikenal sebagai pusat kajian kitab kuning dan fiqih. Pesantren ini telah melahirkan puluhan ribu alumni, termasuk tokoh nasional seperti KH Maimun Zubair, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dan KH Said Aqil Siradj.

Tiga pesantren sepuh di Kediri ini telah bertahan lebih dari satu abad dan tetap menjadi pusat rujukan ilmu para santri dari seluruh Indonesia.
Tiga pesantren sepuh di Kediri ini telah bertahan lebih dari satu abad dan tetap menjadi pusat rujukan ilmu para santri dari seluruh Indonesia. (TribunMataraman.com/Farid Mukarrom)

Saat ini, Lirboyo diasuh oleh KH Muhammad Anwar Mansur bersama keluarga besar dzurriyah Lirboyo. Jumlah santri mencapai sekitar 40 ribu orang, menjadikannya salah satu pesantren terbesar di Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved