Putra Daerah

Melinda Arta Reza Putri, Mahasiswa FKM Unair Pimpin Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya

Melinda Arta Reza Putri, mahasiswa FKM Universitas Airlangga berprinsip memimpin itu melayani dan menginspirasi

Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Dokumen Pribadi
MELINDA: Melinda Arta Reza Putri, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menjadi Ketua Umum Komunitas Beasiswa Unggulan Surabaya. Melinda (depan pertama dari kanan) sedang melaksanakan Rapat Kerja bersama komunitasnya pada Minggu, 8 Desember 2024. 

Ketertarikan Melinda untuk memimpin KUBUS tidak serta-merta hadir, kemauan tersebut tumbuh perlahan dari motivasinya.

“Saya ingin memberikan dampak yang lebih luas bagi para awardee Beasiswa Unggulan,” ungkapnya.

Menurutnya, menjadi seorang ketua umum bukan sekadar jabatan, melainkan kesempatan untuk meluaskan dampak.

Jalan yang ditempuh Melinda menuju kursi Ketua Umum tidak instan. Ia harus mengikuti seleksi administrasi hingga wawancara. Sampai akhirnya, ia terpilih untuk menahkodai KUBUS periode 2024–2025.

Begitupun pada awal kepemimpinan, Melinda juga menghadapi dinamika organisasi.
Mahasiswa FKM UNAIR ini perlu menyesuaikan ritme organisasi karena perbedaan latar belakang anggotanya.

Sebab, anggota KUBUS berasal dari berbagai universitas di Surabaya, baik dari jenjang S1 maupun S2.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah menyatukan visi di tengah perbedaan pemikiran dan manajemen waktu supaya dapat berkumpul full team.  Saya mengatasinya dengan membangun komunikasi intens, mendengarkan dengan empati, dan mencari titik temu yang adil,” ujarnya

Dara kelahiran 2002 ini memiliki prinsip yang dipegang teguh dalam segala aspek kehidupan, termasuk dorongannya untuk maju sebagai ketua umum.

“Hidup itu harus memberi manfaat,” ungkapnya.

Baginya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang berdiri di paling depan, melainkan tentang meluaskan kebermanfaatan.

Sebagai seorang pemimpin, terdapat beberapa momen ketika Melinda harus menghadapi beban ekspektasi, di mana ia perlu menjaga standar yang tinggi dan seolah mesti selalu tampil sempurna.

Namun, ia segera menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah sebuah tujuan.

“Saya belajar bahwa yang terpenting adalah konsistensi progres, bukan kesempurnaan,” tuturnya.

Melinda mulai merasakan dampak dari kepemimpinannya saat anggotanya lebih aktif, berani menyampaikan pendapat, dan saling mendukung. 

Baca juga: Keberangkatan PMI Ilegal Masih Terjadi di Bondowoso, Ini Saran SBMI

Salah satu momen yang ia kenang adalah ketika program kolaborasi yang melibatkan pihak internal dan eksternal berhasil disukseskan.

Halaman
123
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved