Rabu, 22 April 2026

Berita Terbaru Kabupaten Kediri

Ruwatan Negara di Situs Persada Soekarno Kediri, Usulkan 18 Agustus Jadi Hari Lahir NKRI

Ribuan orang memadati Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur

Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Isya Anshori
KHIDMAT - Suasana Ruwatan Negara di Persada Soekarno Situs Ndalem Pojok Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Jawa Timur, Senin (18/8/2025). Acara ini digelar sebagai wujud syukur hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus menyongsong Indonesia sebagai mercusuar dunia. 

TRIBUNMATARAMAN.COM I KEDIRI - Ribuan orang memadati Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Senin (18/8/2025).

Mereka berasal dari sejumlah daerah untuk mengikuti prosesi Ruwatan Negara.

Acara ini digelar sebagai wujud syukur hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus menyongsong Indonesia sebagai mercusuar dunia. 

Ruwatan Negara ini digelar sehari setelah peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI dan diikuti tokoh lintas agama, budaya, serta masyarakat dari Jawa, Bali, hingga Sunda.

Mereka kompak mengenakan pakaian adat masing-masing, sehingga suasana prosesi terlihat khidmat sekaligus penuh warna.

Ketua Harian Persada Soekarno Kushartono menegaskan bahwa ruwatan ini adalah ikhtiar agar Indonesia mampu menjadi mercusuar perdamaian dunia.

Menurutnya, bangsa Indonesia patut bersyukur karena hanya butuh satu hari dari proklamasi kemerdekaan hingga berdirinya negara.

"Dengan adanya ruwatan negara ini kita berharap Indonesia bisa menjadi mercusuar perdamaian dunia. Memang tampaknya mustahil, tapi bagi bangsa Indonesia yang percaya kepada Tuhan itu adalah hal yang perlu dilakukan," kata Kushartono.

Baca juga:  Serunya Lomba Makan Soto Ayam di Nganjuk Peringati HUT RI, Peserta Habis 8 Mangkok

Rangkaian acara dimulai sejak Minggu (17/8) malam dengan perjalanan wayang Mbah Gandrung dari Desa Pagung, Lereng Wilis, menuju Situs Persada Soekarno sejauh 45 kilometer.

Arak-arakan gamelan dan peralatan adat itu menjadi simbol perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan dan mendirikan negara.

Prosesi dilanjutkan dengan doa lintas agama pada Senin pagi.

Tokoh Hindu, Buddha, Katolik, Islam, Konghucu, serta penghayat kepercayaan tampil satu persatu memimpin doa bersama memohon keselamatan bagi bangsa. 

Usai doa, panitia juga memberikan santunan bagi anak yatim dan fakir miskin.

Momen paling ditunggu adalah prosesi ruwatan adat dari berbagai daerah.

Dimulai dengan ritual adat Bali oleh Resi Ida Pandita Agung Putra Nata Siliwangi Manuaba, dilanjutkan adat Majapahit oleh Gus Imm dari Mojokerto.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved