Jumat, 29 Mei 2026

Pendidikan

Unair Masuk Lima Besar Risiko Pelanggaran Integritas Riset, Ini Penjelasan Kampus

Unair masuk dalam daftar 5 besar institusi dengan risiko pelanggaran integritas riset tertinggi versi lembaga Research Integrity Risk Index (RI2).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/sulvi sofiana
ETIKA PUBLIKASI : Ketua Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan, dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) UNAIR, Prof Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., menunjukkan buku Panduan dan Praktik dalam Meningkatkan Kualitas Jurnal Ilmiah dan buku Etika Publikasi Ilmiah yang dibuat untuk para dosen dan mahasiswa yang mau mempublikasikan penelitiannya. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA – Universitas Airlangga (Unair) masuk dalam daftar lima besar institusi dengan risiko pelanggaran integritas riset tertinggi versi lembaga Research Integrity Risk Index (RI2).

Dalam laporan terbaru yang dipublikasikan melalui situs resmi RI2, Unair dikategorikan sebagai Red Flag Institution dengan total 5.994 artikel yang dinilai memiliki risiko sangat tinggi terhadap integritas riset.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Lembaga Inovasi, Pengembangan Jurnal, Penerbitan, dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) Unair, Prof Hery Purnobasuki, M.Si., Ph.D., mengatakan bahwa evaluasi eksternal seperti ini menjadi masukan penting bagi institusi.

Namun, ia menilai perlu ada peninjauan komprehensif dan pembandingan dengan data internal kampus.

“Kami tidak menampik adanya data tersebut, tetapi jumlah yang disebutkan terlalu besar dan tidak sesuai dengan data internal kami. Di data kami, hanya ada sekitar 2.000 artikel yang perlu dievaluasi,” ujarnya, Jumat (11/7/2025).

Menurut Prof Hery, banyak kasus terjadi pada masa awal Unair mendorong peningkatan jumlah publikasi ilmiah, ketika budaya publikasi akademik di lingkungan kampus masih dalam tahap pertumbuhan. Salah satunya dipicu oleh persyaratan kelulusan mahasiswa dan target kinerja dosen.

“Dulu kita baru belajar. Banyak mahasiswa butuh publikasi sebagai syarat kelulusan, dan dosen pun mengejar capaian kinerja. Banyak jurnal terlihat aman waktu itu, tapi belakangan dihentikan indeksasinya oleh Scopus,” jelasnya.

Perubahan Strategis dan Transformasi Kualitas

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Unair telah melakukan pembenahan menyeluruh dan strategis guna memperkuat budaya akademik yang berkualitas dan bermartabat.

“Sejak 2017, Unair mengalami transformasi signifikan dari sisi kuantitas ke kualitas dalam publikasi ilmiah. Kami tak hanya mencetak lonjakan jumlah publikasi, tetapi juga fokus pada peningkatan reputasi jurnal,” tegasnya.

Hingga 2025, lebih dari 45 persen publikasi Unair telah terbit di jurnal top 50 persen dunia (Q1–Q2), dan 72 persen masuk dalam jurnal top 75 persen (Q1–Q3). Bahkan, kontribusi jurnal Q1 telah mencapai 23,9 persen dan terus menunjukkan tren naik setiap tahun.

Penguatan Etika dan Pendampingan Akademik

Untuk mendukung capaian tersebut, Unair memperkuat tata kelola etika publikasi dengan menyusun dan menerapkan SOP Etik Publikasi yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga dilengkapi dengan edukasi serta pendampingan aktif bagi dosen dan peneliti.

“Kami tidak berhenti pada dokumen SOP saja. Semua dosen mendapatkan pembekalan serta bimbingan, bahkan dalam pemilihan jurnal agar tidak terjebak jurnal predatoris atau jurnal yang bermasalah,” tegas Prof Hery.

Unair juga menjalankan program “Unair Menulis” setiap minggu untuk mendampingi akademisi menghasilkan karya ilmiah berkualitas dan layak publikasi internasional.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai seleksi jurnal bereputasi serta bagaimana menghindari jebakan jurnal tidak kredibel.

“Pendampingan kami bersifat aktif dan terstruktur. Jika ada naskah yang berisiko, tim kami langsung turun tangan,” tambahnya.

Monitoring Ketat dan Kemandirian Jurnal Ilmiah

Sebagai bagian dari kontrol kualitas, Unair juga membentuk Tim e-IPKI (Etik dan Integritas Publikasi Karya Ilmiah). Tim ini bertugas memantau potensi pelanggaran integritas akademik sejak awal penulisan naskah.

“Tim e-IPKI menjadi radar awal. Begitu terdeteksi indikasi jurnal bermasalah, kami lakukan intervensi sebelum naskah dikirim,” kata Prof Hery.

Di sisi lain, dalam upaya memperkuat kemandirian publikasi nasional, Unair kini mengelola 20 jurnal ilmiah yang telah terindeks Scopus dengan rentang kuartil Q1 hingga Q4. Jurnal-jurnal ini dibangun sebagai alternatif yang menjunjung tinggi etika dan standar ilmiah.

“Sebagai universitas riset, kami tidak ingin sepenuhnya bergantung pada jurnal luar negeri. Maka kami perkuat jurnal internal agar bisa jadi rujukan ilmiah global,” pungkas Prof Hery.

(Sulvi Sofiana/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved