Kamis, 16 April 2026

UMKM Tulungagung

Bermula Dari Coba-coba, Keripik Nadasuka Terjual Hingga ke Hongkong 

Keripik Nadasuka dari Tulungagung berhasil menembus pasar mancanegara, salah satunya Hongkong. Ini kisahnya dari nol.

Penulis: David Yohanes | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/david yohanes
KERIPIK NADASUKA - Sukamdi  memegang keripik sukun dan istrinya, Sunarti memegang keripik ubi ungu produk mereka yang diberi merek Nadasuka, saat ditemui Rabu (26/3/2025) di Dusun Kendit, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Produk keripik ubi ungu dan stik sukun terjual hingga ke Hongkong. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | TULUNGAGUNG - Keripik Nadasuka dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menjadi salah satu produk makanan yang bisa menembus pasar Hongkong. 

Saat ini produknya juga sedang dilirik untuk coba dipasarkan di Swiss,Jerman dan Prancis oleh tokoh diaspora Tulungagung.  

Sebelum punya nama dan diterima pasar secara luas, keripik ini awalnya dibuat dengan coba-coba oleh pasangan suami istri Sukamdi (53) dan Sunarti (47).

"Kami merintis di tahun 2015. Awalnya hanya iseng karena kebetulan kami punya lahan kebun pisang," ujar Sunarti saat ditemui di rumahnya, Dusun Kendit, Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. 

Saat itu harga pisang tanduk sangat murah, hanya Rp 800 per kilogram.

Karena merasa kurang menguntungkan, Sukamdi menjual lahannya.

Namun setelah lahan kebun pisang itu terjual, malah muncul niat untuk membuat keripik pisang.

"Tahun 2015 itu kami mulai jalan membuat keripik pisang. Kami bungkus kecil-kecil, kami jual ke warung-warung kopi," kenang Sunarti

Saat itu sebungkus kecil keripik pisang dijual Rp 500 saja.

Ternyata keripik pisang ini banyak diminati sehingga setiap hari habis terjual.

Sukamdi dan Sunarti lalu mencoba meningkatkan produksi dengan kemasan 100 gram.

"Saat itu kami jual ke toko-toko Rp 4.500, lalu dijual sama toko Rp 5.000 per bungkus. Buat 100 bungkus ternyata langsung laku," ucap Sunarti. 

Setelah tahu produknya banyak diminati, Sukamdi dan Sunarti semakin serius membuat keripik pisang.

Sukamdi akhirnya juga ikut turun ke lapangan membantu pemasaran. 

Sementara Sunarti merekrut seorang tetangga untuk membantu produksi. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved