Kasus Tuberkulosis di Surabaya

Gencarkan Pemeriksaan Dini, Kemenkes Dukung Percepatan Penanganan Kasus TB di Surabaya

Melalui deteksi dini, Kemenkes mendukung langkah pemerintah Surabaya untuk menangani tingginya Kasus Tuberkulosis.

|
Editor: eben haezer
Tidak ada
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono berkunjung ke Puskesmas Krembangan Selatan, Kamis (5/12/2024). 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA - Kasus tuberkulosis (TB) di Surabaya masih menjadi yang tertinggi di Jawa Timur.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mendukung langkah pemerintah daerah untuk percepatan penanganan fenomena tersebut melalui deteksi dini.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono menjelaskan bahwa penyakit TB menjadi atensi Pemerintah saat ini.

Mengutip data nasional, estimasi kasus TB di Indonesia mencapai 1.092.000 kasus sekaligus menempatkan Indonesia berada di peringkat kedua dengan kasus TB tertinggi dunia setelah India.

Dari total estimasi tersebut, belum semuanya terdeteksi.

Selama beberapa tahun terakhir deteksi dini dilakukan secara masif.

"Dari yang awalnya sekitar 300 ribu kemudian menjadi 800 ribu pada 2023. Tahun ini kami targetkan di 900 ribu dan tahun depan bisa 100 persen atau sekitar 1 juta," kata Wamenkes di Puskesmas Krembangan Selatan, Kamis (5/12/2024).

Wamenkes hadir untuk "belanja masalah" dan meninjau sejumlah pelayanan kesehatan di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) tersebut. 

Sekaligus menghadiri acara program Pengabdian Masyarakat Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo bersama Kompak Medika (Komed) 94 Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI).

Dalam program pengabdian masyarakat tersebut, Pelindo bersama Komed 94 juga melakukan screening TB, pembagian makanan untuk pencegahan stunting, donor darah, dan beberapa kegiatan lain.

Wamenkes pun mengapresiasi peran berbagai lapisan masyarakat untuk ikut peduli terhadap TB, termasuk melalui pemeriksaan dini.

Pemeriksaan dini menjadi tahap awal menuju pengobatan kepada pasien TB. Screening dilakukan kepada pasien dan kontak erat. "Kontak erat mencakup 8 orang dari anggota keluarga pasien," ujarnya.

Karenanya, saat ini Indonesia tengah menggencarkan pemeriksaan dini sebagai upaya menurunkan jumlah kasus TB. Dengan melakukan pemeriksaan lebih, maka penanganan bisa cepat dilakukan.

"Kami ingin meniru China. China bisa menurunkan angka TBC sehingga dari yang awalnya berada di peringkat kedua dunia turun menjadi peringkat ketiga. Kita yang justru saat ini berada di peringkat kedua," katanya.

Upaya deteksi dini tersebut di antaranya menggunakan portable X-ray.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved