Berita Terbaru Kabupaten Blitar

Pemkab Blitar Bangun Pompanisasi untuk Tingkatkan Produksi Hasil Pertanian di Kabupaten Blitar

Pemkab Blitar bangun program pompanisasi pertanian untuk membantu infrastruktur dan demi meningkatkan swasembada pangan di Kabupaten Blitar.

Penulis: Samsul Hadi | Editor: eben haezer
ist
Jejeran para petani dengan hasil panen raya padi di Desa Butun, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, pada Oktober 2024 lalu. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | BLITAR - Pemkab Blitar terus berupaya memperbaiki infrastruktur di sektor pertanian untuk meningkatkan produksi demi terwujudnya swasembada pangan.

Pembangunan infrastruktur pertanian yang sekarang sedang dikembangkan, yakni pompanisasi dan saluran irigasi untuk membantu pengairan terutama di daerah pertanian yang rawan kekeringan.

Tak hanya itu, Pemkab Blitar juga terus memperbaiki akses jalan di lahan pertanian untuk mempermudah angkutan hasil panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Toha Mashuri mengatakan, pembangunan pompanisasi sudah dilakukan di wilayah Kecamatan Sutojayan.

Pemkab Blitar mendapat bantuan dari pemerintah pusat untuk membangun 70 titik pompa air di lahan pertanian seluas 50 hektare di wilayah Kecamatan Sutojayan.

Kecamatan Sutojayan berada di Kabupaten Blitar bagian selatan yang rawan terdampak bencana kekeringan ketika musim kemarau.

"Dengan adanya bantuan pompanisasi, petani di Kecamatan Sutojayan akhirnya tetap bisa menanam padi meski di musim kemarau panjang ini," kata Toha, Selasa (22/10/2024).

Pemkab Blitar juga menyiapkan bioteknologi pertanian pada tanaman padi, khususnya penggunaan elisitor biosaka sebagai pengganti penggunaan pupuk kimia.

Dengan penggunaan elisitor ini, proses produksi pada padi dapat menghemat biaya karena penggunaan pupuk kimia berkurang hingga 50 persen tanpa mengurangi produktivitas tanaman.

"Kami juga memperbaiki akses di lahan pertanian agar proses angkutan hasil panen menjadi lebih mudah," ujarnya.

Dikatakannya, produk unggulan sektor pertanian di Kabupaten Blitar yaitu, padi, jagung, cabai, nanas, alpukat, dan pisang.

Pada 2023, produksi padi di Kabupaten Blitar mencapai 313.083 ton gabak kering giling dengan luas lahan tanam sekitar 50.107 hektare.

Pada bulan Januari-September 2024 ini, produksi padi di Kabupaten Blitar mencapai 178.349 ton gabah kering giling dengan luas lahan tanam 32.758 hektare.

"Hasil produksi padi kami sudah mencukupi untuk kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Blitar. Sebagian produksi padi kami gunakan untuk memasok beberapa daerah di Jawa Timur," jelasnya. 

Sedangkan untuk produksi jagung di Kabupaten Blitar pada 2023 mencapai 244.588 ton dengan luas lahan tanam 42.119 hektare.

Pada bulan Januari-September 2024, produksi jagung di Kabupaten Blitar mencapai 210.459 ton dengan luas lahan tanam 39.070 hektare.

Kabupaten Blitar juga salah satu penghasil cabai. Pada Januari-September 2024, produksi cabai di Kabupaten Blitar mencapai 324.989 ton dengan luas lahan tanam 10.337 hektare.

Sebagian hasil produksi cabai dari Kabupaten Blitar juga untuk memasok pasar di Jakarta dan Jawa Barat.

"Untuk pertanian cabai, sebagian petani sudah menerapkan sistem pengairan drip atau irigasi tetes sehingga menghemat air dan green house. Hasilnya juga bagus dan usia tanaman lebih lama, bisa setahun lebih terus berbuah," ucapnya.

Kabupaten Blitar juga penghasil nanas dengan produksi mencapai 69.721 ton per tahun dengan luas lahan tanam 10.378.501 hektare.

Kabupaten ini juga penghasil buah alpukat dengan produksi mencapai 6.660 ton per tahun dengan populasi pohon 321.444 pohon.

Sedangkan untuk produksi pisang di Kabupaten Blitar mencapai 40.473 ton per tahun dengan populasi pohon 1.947.635 pohon.

"Kami juga penghasil kopi dengan produksi 1.656 ton per tahun dengan luas area tanam 2.151 hektare. Untuk hasil produksi kopi sudah eksport ke Jerman, kerja sama dengan petani Bandung, Jawa Barat," ujarnya.

Menurut Toha, kendala sektor pertanian di Kabupaten Blitar yaitu terkait cuaca. Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini membuat hasil produksi pertanian turun.

"Cuaca ekstrem pada 2023-2024 ini sangat berpengaruh pada hasil produksi pertanian di Kabupaten Blitar. Baik di pangan maupun di hortikultura," katanya. 

"Misalnya, petani padi seharusnya bisa tanam dua sampai tiga kali dalam setahun, namun akhirnya tidak bisa menanam karena tidak ada air. Petani cabai juga seperti itu, dampak cuaca ekstrem hasil panen jadi tidak bagus. Karena kekurangan air, akhirnya produksinya menurun," lanjutnya.

Maka dari itu, kata Toha, dengan pembangunan sistem pompanisasi ini dapat sangat membantu petani untuk menanam meski di musim kemarau yang panjang.

Pjs Bupati Blitar, Jumadi mengatakan selama ini Pemkab Blitar memfasilitasi tata kelola pengembangan unit produksi hasil pertanian di Kabupaten Blitar.

Diketahui, Pemkab Blitar baru saja menandatangani kerja sama dengan Polres Blitar terkait penanaman jagung di Kabupaten Blitar.

Kerja sama ini untuk mewujudkan program 100 hari mendukung Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto yang bertujuan untuk mencapai kemandirian pangan di seluruh Indonesia.

Kolaborasi ini menjadi langkah awal penting dalam mewujudkan swasembada pangan di wilayah Kabupaten Blitar, khususnya dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan.

Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan produksi benih jagung di Kabupaten Blitar semakin meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, sekaligus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan di tingkat nasional.

"Karena di Kabupaten Blitar kebutuhan jagung untuk pakan ternak saja kurang. Ini ada tambahan penanaman jagung dari Polres, hal ini merupakan dukungan luar biasa bagi petani," pungkasnya. 

(Samsul Hadi/tribunmataraman.com)

editor: Intan Nur Azizah

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved