Pendidikan

Pelatihan Maternal Feeding FPsi Unair di Sumenep: Atasi Stunting Tak Cukup Hanya Dengan Penuhi Gizi

FPsi Unair menggelar pelatihan maternal feeding di Sumenep Madura. Terungkap, mengatasi stunting tak hanya dengan mencukupi makanan bergizi

Editor: eben haezer
ist
Pelatihan maternal feeding di Talango Sumenep yang digelar FPsi Universitas Airlangga 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SUMENEP - Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, menggelar Pelatihan Maternal Feeding di Posyandu Desa Gapurana, kecamatan Talango, kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, pekan lalu. 

Pelatihan ini merupakan bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian Kepada Masyarakat. 

Pelatihan ini diikuti tak kurang dari 60 orang peserta Sekolah Orang Tua Hebat. 

Stunting, Pola Asuh, dan Maternal Feeding

Pemenuhan kebutuhan gizi dan pola asuh yang tepat menjadi inti pelatihan yang dilakukan di Kecamatan Talango ini.

Dalam pelatihan tersebut,  Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, turut terjun langsung menjadi narasumber. 

Dalam sesinya, Dekan menekankan pentingnya pemenuhan gizi bagi tumbuh dan kembang anak. 

Melalui sesi ini, peserta pelatihan diberikan pemahaman terkait bagaimana stunting dapat menghambat perkembangan anak, termasuk dampaknya yang tidak hanya menyasar pada tinggi badan anak, melainkan juga kognisi dan kesehatan jangka panjang.

Narasumber lainnya, Endang R. Surjaningrum, M.AppPsych., Ph.D., Psikolog, juga  menekankan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya gizi, tetapi juga pola asuh.

Pemilihan pola asuh memiliki peran yang sangat besar dalam pertumbuhan anak.

Kendati demikian, masih banyak peserta pelatihan yang menerapkan pola asuh otoriter yang cenderung keras dalam mengasuh anaknya.

Hal ini mengemuka dari beberapa peserta pelatihan yang mengaku bahwa mereka bersikap keras ketika anaknya tidak mau menuruti apa yang mereka katakan, terutama ketika anak tidak mau makan. 

“Ciptakan momen makan yang berharga bagi anak, ciptakan suasana di mana anak merasa bahwa makan merupakan proses yang menyenangkan dan tidak menakutkan sama sekali. Beri mereka kesempatan untuk memilih piringnya sendiri, mengambil gelas kesukaannya, dan makan bersama orang terdekatnya. Dengan cara seperti itu, tidak akan ada ceritanya anak susah kalau disuruh makan,” kata Afif Kurniawan, M.Psi., Psikolog, yang juga hadir sebagai pemateri. 

(tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved