Kabupaten Blitar

Profil Kabupaten Blitar: Sejarahnya Dapat Ditelusuri Dalam Kitab Negarakertagama

Kabupaten Blitar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Sejarahnya dapat ditelusuri di Kitab Negarakertagama

Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/samsul hadi
Sejumlah umat Hindu Jawa-Bali menggelar doa bersama di kawasan Candi Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Sabtu (8/7/2023).  

Sejarah

Tiga wilayah subur, yaitu Malang, Kediri, dan Mojokerto, seolah dibentuk oleh Sungai Brantas sebagai pusat kekuasaan, sesuai dengan teori Natural Seats of Power yang dikemukakan oleh pakar geopolitik Sir Halford Mackinder pada tahun 1919.

Teori ini terbukti benar karena kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur, seperti Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit, semuanya mendirikan ibu kota mereka di sekitar aliran Sungai Brantas.

Saat ini, Kediri dan Malang dapat diakses melalui tiga jalur utama yaitu Mojosari, Ngantang, dan Blitar. Namun, di masa lalu, hanya jalur melalui Mojosari atau Blitar yang digunakan untuk menuju Kediri atau Malang, karena jalur Ngantang masih dianggap terlalu berbahaya, seperti yang dikemukakan oleh J.K.J. de Jonge dan M.L. van de Venter pada tahun 1909.

Jalur utara yang melewati Mojosari pada masa itu juga sulit dilalui karena banyaknya daerah rawa di sekitar muara Sungai Porong. Di tempat ini pula, Laskar Jayakatwang yang mengejar Raden Wijaya pada tahun 1292 gagal menangkapnya akibat medan yang terlalu sulit. Oleh karena itu, jalur melalui Blitar lebih disukai karena lebih mudah dan aman, didukung oleh kondisi alam yang lebih landai.

Pada masa lalu, Blitar menjadi jalur utama yang menghubungkan Dhoho (Kediri) dengan Tumapel (Malang) karena merupakan rute tercepat dan termudah.

Kitab Negarakertagama

Pendapat bahwa Kabupaten Blitar merupakan wilayah perbatasan antara Dhoho dan Tumapel dapat diambil dari salah satu kisah dalam Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca.

Dalam kitab tersebut, disebutkan bahwa Raja Airlangga meminta Empu Bharada untuk membagi Kerajaan Kediri menjadi dua, yaitu Panjalu dan Jenggala.

Empu Bharada melaksanakan perintah tersebut dengan menuangkan air kendi dari ketinggian, dan air itu konon berubah menjadi sungai yang memisahkan kedua kerajaan.

Meskipun lokasi dan nama sungai tersebut belum pasti hingga sekarang, beberapa sejarawan berpendapat bahwa sungai yang dimaksud adalah Sungai Lekso (yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Kali Lekso), berdasarkan analisis etimologis yang merujuk pada nama sungai dalam Kitab Pararaton.

Kitab Pararaton

Dalam Kitab Pararaton, diceritakan bahwa pasukan Daha yang dipimpin oleh Raja Jayakatwang berniat menyerang Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Raja Kertanegara melalui jalur utara (Mojosari).

Sementara itu, pasukan yang bergerak melalui jalur selatan digambarkan dalam kitab dengan kalimat saking pinggir Aksa anuju in Lawor... anjugjugring Singosari pisan, yang berarti "dari tepi Aksa menuju Lawor... langsung menuju Singosari."

Kata "Aksa" diduga merujuk pada Kali Aksa, yang kemudian berubah menjadi Kali Lekso. Pendapat ini diperkuat oleh peta abad ke-17, yang mencatat bahwa "...di sebelah timur sungai Lekso adalah wilayah Malang, dan di sebelah baratnya adalah wilayah Blitar."

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved