Dokter PPDS Bunuh Diri
Dokter PPDS Undip Diduga Bunuh Diri Karena Tak Kuat Dibully, Kampus dan RS Masih Bungkam
Seorang dokter PPDS Anestesi Undip Semarang berinisial ARL, disebut meninggal bunuh diri karena tak kuat dirundung. Kampus dan RS masih bungkam
Penulis: eben haezer | Editor: eben haezer
TRIBUNMATARAMAN.COM - Seorang dokter PPDS Anestesi Undip Semarang berinisial ARL, disebut meninggal bunuh diri karena tak kuat dirundung.
Untuk mengungkap fakta di balik hal tersebut, Kementerian Kesehatan menutup sementara program studi anestasi di RSUP Dr.Kariadi, Semarang.
Peristiwa ini viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat di platform X ataupun Instagram.
Dalam surat Kemenkes yang beredar, dijelaskan demikian: Sehubungan dengan terjadinya perundungan di Program Studi Anestesi Universitas Diponegoro yang ada di RSUP Dr.Kariadi, yang menyebabkan terjadinya bunuh diri pada salah satu peserta didik program studi anestesi Universitas Diponegoro, maka disampaikan kepada Saudara untuk menghentikan sementara program studi anestesi di RSUP Dr.Kariadi, sampai dengan dilakukannya investigasi dan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan oleh jajaran Direksi Rumah Sakit Kariadi dan FK Undip. Penghentian program studi sementara tersebut terhitung mulai tanggal surat ini dikeluarkan.
Surat kemenkes tersebut diterbitkan pada 14 Agustus 2024 dan diteken oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan dr Azhar Jaya, S.H,SKM,MARS, serta ditujukan kepada Direktur Utama RSUP Dr Kariadi dengan tembusan di antaranya kepada Menkes RI, Mendikbud Ristek, Rektor Undip, dan Dekan FK Undip.
Terkait kematian dr ARL, informasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa dokter perempuan itu meninggal bunuh diri dengan cara menyuntikkan obat bius ke dirinya sendiri, diduga karena tak kuat menahan bully selama mengikuti PPDS Anestasi Undip Semarang.
dr ARL meninggal di kamar kosnya di Jl Lempongsari, kota Semarang, Senin (12/8/2024).
Dugaan penyebab kematian karena perundungan, muncul dari isi buku harian dr ARL. Namun, sampai saat ini penyelidikan terhadap kasus ini masih terus berlangsung.
Di sisi lain, warganet mengecam hal ini. Mereka juga menyayangkan pihak FK Undip, khususnya program studi anestesi, yang sampai saat ini bungkam. Bahkan, menurut warganet, pihak program studi belum membuat pernyataan turut berdukacita atas kematian dr ARL.
Selain pihak Anestesi FK Undip, pihak RS Kariadi juga belum angkat suara terkait peristiwa ini.
(tribunmataraman.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.