Berita Terbaru Kota Malang

Tenaga Pendidikan Universitas Brawijaya mengikuti Workshop Dan Pelatihan Kegawatdaruratan Medis

Tenaga Kependidikan Mengikuti Pelatihan Kegawat Daruratan Medis Di Lingkungan Universitas Brawijaya Malang.

|
Editor: eben haezer
Sylvianita Widyawati
Tenaga pendidikan/kependidikan Universitas Brawijaya (UB) mengikuti kegiatan workshop dan pelatihan kegawatdarutan medis selama dua hari (13-14/5/2024) di gedung Fikom. 

TRIBUNMATARAMAN.COM|MALANG - Tenaga pendidikan/kependidikan Universitas Brawijaya (UB) mengikuti kegiatan workshop dan pelatihan kegawatdaruratan medis selama dua hari, mulai hari ini (13/5/2024). 

Kegiatan ini merupakan bagian dari rencana launching divisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). 

Sebanyak 100 peserta dari masing-masing unit di UB ikut kegiatan itu untuk mengintegrasikan kegawat daruratan sehari hari di kondisi kerja sampai hulu hilir.

"Kami dari RS pasti datang terlambat. Sedangkan warga di UB yaitu dosen, tenaga kerja dan tamu yang harus dilindungi. Maka ketika kami tenaga kesehatan (nakes)  terlambat, maka dibutuhkan medical first responder ," ujar dr Aurick Yudha SpEM KPEC.

Dikatakan, ada kesalahan selama ini pada orang awam dimana ketika ada sesuatu, maka ingin cepat-cepat datang ke IGD. Namun ketika datang ke IGD, jika bisa, pasien tidak bertambah parah.

"Harusnya  ditangani dulu sebelum masuk IGD. Misalkan pasien punya riwayat hipertensi atau henti jantung maka yang perlu dilakukan adalah penanganan yang cepat dan sigap. Kalau menunggu nakes lama," jawab dia.

Sehingga medical first responder harus bisa melakukan CPR (Resusitasi Jantung Paru). CPR adalah langkah pertama yang dapat diterapkan pada pasien yang mengalami henti jantung dan paru mendadak sebelum tim ambulans atau tim gawat darurat dari rumah sakit terdekat tiba. Kalau terlambat bisa berakibat fatal dan bisa juga mengalami kematian. 

"Langkah pertama yang dapat diterapkan pada pasien yang mengalami henti jantung dan paru mendadak sebelum tim ambulans atau tim gawat darurat dari rumah sakit terdekat tiba," kata dia. Potensi kegawat daruratan di kampus termasuk kebakaran. "Juni nanti akan ada simulasi besar. Kegiatan sekarang masih di managerial," kata dia. 

Nantinya safety officer di UB ada mako satpam/keamanan. Mako yang akan mengintegrasikan supaya warga UB tidak bingung menghubungi siapa. Nanti leadernya dipimpin mako. Di UB juga sudah memiliki unit damkar. Apa di UB di setiap unit memiliki tim? Ia memjawab sudah ada beberapa yg sudah misal FT dan FK ada tim rescuer yang siap menolong civitas saat ada kebakaran.

Tugasnya melakukan evakuasi korban, mengoperasikan hydrant  dan lainnya. Ia berharap nanti di semua unit di UB memilikinya.

"Kebakaran di gedung juga ancaman tinggi," kata dia.

Terkait managerial, pertemuan itu untuk pemetaan risiko dan bahayanya di tempat kerja. Dalam integrasi di sistem itu termasuk RSUB.

Hendra Arifianto, peserta workshop dari Fakultas Teknik Departemen Teknik Industri menjelaskan, pelatihan ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan penerapan K3 di semua unit di kampus. 

"Setiap bangunan sudah ada K3 tapi belum ada simulasi," jawab dia. 

Maka jika ada tenaga ahli yang tersertifikasi, maka setiap fakultas dan unit di UB bisa ada ahli. Serta jadi pilot project dan menularkan ke temannya.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved