Berita Trenggalek
Antrean Bisa Sampai 1 Tahun, Perajin Barongan di Trenggalek Banyak Terima Pesanan dari Mancanegara
Perajin barongan di Trenggalek masih bertahan meski pandemi covid-19 sempat membuat pesanan sepi. Kini, pesanan datang dari berbagai tempat
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: eben haezer
TRIBUNMATARAMAN.com | TRENGGALEK - Hari-hari Purnomo (36) dan Dwi Santoso (36) tak pernah lepas dari kayu, alat tatahan, kulit kerbau, dan aneka cat.
Di galeri Kucur Tanjung di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, mereka sibuk membuat barongan saban hari.
Dua kawan sekolah itu merupakan satu dari sekian perajin barongan di Kabupaten Trenggalek yang masih bertahan hingga kini.
"Dalam sebulan, maksimal kami bisa bikin dua barongan," kata Purnomo, Selasa (8/2/2022).
Butuh waktu lama untuk membuat barongan. Apapun jenisnya.
Sebab, proses pembuatannya dilakukan secara manual. Dari awal hingga akhir. Dari hulu sampai hilir.
Untuk membuat barongan, Purnomo dan Dwi bekerja sama. Mereka berbagi kerja sesuai dengan keahlian masing-masing.

Dwi yang ahli dalam pahat-memahat mengerjakan proses awal hingga setengah jadi.
Sementara Purnomo bertugas pada bagian akhir. Ia bagian mengecat dan menyelesaikan barongan hingga jadi dan siap kirim.
"Mayoritas barongan yang kami buat adalah pesanan," sambung Purnomo.
Pemesan barongan Purnomo tak terbatas dari Palau Jawa.
Justru, pesanan paling banyak berasal dari pulau luar. Mulai Kalimantan, Sumatera, bahkan hingga Papua.
"Kami juga sering mendapat pesanan dari luar negeri. Mulai dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, hingga Korea Selatan," sambung dia.
Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha kerajinan itu tersendat. Banyak pemesan yang meminta pembuatan barongan ditunda.
"Waktu Covid-19 puncak-puncaknya sekitar Juli lalu, kami sempat berhenti selama sebulan. Setelah itu Alhamdulillah mulai lancar kembali," ujarnya.
Saat sebelum pandemi, lama antrean pemesanan barongan bisa mencapai 1 tahun.
Soal lamanya proses pembuatan barongan, Dwi menjelaskan, butuh ketelatenan untuk membuat barongan yang sempurna.
Proses yang membutuhkan waktu paling lama adalah pemahatan.
"Kalau santai-santai, sepuluh hari selesai," terang Dwi.
Soal pahat-memahat, keahlian Dwi tak perlu diragukan. Sebelum membuat barongan, ia sudah lama terjun di dunia mebel dan ukiran kayu.
Untuk satu barongan, mereka membandrol harga antara Rp 3 juta hingga Rp 3,7 juta.
Harga ditentukan dari jenis barongan dan kesulitan tingkat pembuatannya.