Penyakit Mulut dan Kuku
Pasar Hewan Tulungagung Tidak Terpengaruh Isu PMK, Harga Sapi dan Kambing Masih Stabil
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung melakukan inspeksi ke Pasar Hewan Terpadu di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol
Penulis: David Yohanes | Editor: Sri Wahyuni
TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Tulungagung melakukan inspeksi ke Pasar Hewan Terpadu (PHT) di Desa Sumberdadi Kecamatan Sumbergempol, Rabu (4/2/2026).
Inspeksi ini untuk memastikan aktivitas pasar hewan saat marak kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah sekitar.
Petugas Kesehatan Hewan secara acak memeriksa kondisi kesehatan kambing dan sapi yang dijual.
Pemeriksaan suhu maupun kondisi mulut tidak ditemukan sapi dan kambing yang terindikasi kena PMK.
Namun ada seekor sapi perah yang nafasnya tersengal-sengal dan mulutnya mengeluarkan liur.
Dari pemeriksaan, sapi yang biasa di daerah dingin ini kepanasan, tidak tahan dengan suhu PHT Tulungagung.
“Semua hewan yang diperiksa dalam kondisi sehat. Tidak ditemukan sapi atau kambing dalam kondisi sakit,” jelas Kepala Disnak Keswan Tulungagung, Agus Suswantoro.
Harga jual sapi masih normal di harga Rp 20 juta hingga Rp 30 juta tergantung ukuran.
Demikian juga kambing juga masih normal, Rp 3,4 juta untuk ukuran besar, dan Rp 3,2 juta untuk yang lebih kecil.
Harga jual sapi dan kambing akan turun tajam jika terjadi wabah PMK dalam skala luas.
“Harga jual masih normal, artinya tidak terpengaruh dengan isu PMK yang sedang merebak,” tambah Agus.
Untuk mencegah merebaknya PMK, Disnak Keswan Tulungagung telah melakukan vaksinasi 5.000 dosis sisa tahun 2025.
Saat ini Disnak Keswan mendapat bantuan vaksin PMK tahap pertama dari Pemprov Jatim sebanyak 17.000 dosis.
Baca juga: RS BHC Run 2026 Siap Digelar, Gabungkan Wisata Olahraga Budaya Promosi Kesehatan dan UMKM Sumenep
Seluruh vaksin diperkirakan akan tuntas diberikan pada hewan ternak di pertengahan Maret 2026.
Disnak Keswan Tulungagung telah menemukan 59 kasus PMK pada sapi yang menyebar di 12 kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Tulungagung.
Seluruh sapi yang sakit telah dalam proses pengobatan dengan perkembangan yang menggembirakan.
Menurut Agus, serangan PMK kali ini tidak terlalu parah karena sebelumnya sudah dilakukan vaksinasi PMK secara massal.
“Dampak pada sapi yang sudah divaksin lebih ringan dan mudah disembuhkan dibanding yang belum divaksin. Sejauh ini gejalanya ringan, tidak ada yang sampai mati,” ungkapnya.
Kabid Kesehatan Hewan, Tutus Sumaryani menambahkan, gejala PMK yang ditemui rata-rata luka pada mulut.
Tidak ada sapi yang ditemukan dengan serangan pada kuku kaki, tanda kondisi yang lebih parah.
Seluruh sapi yang terserang PMK ditangani dengan pemberian antibiotik selama 5 hari, dibantu vitamin untuk menguatkan daya tahan tubuh.
“Laporan perkembangan sapi-sapi yang sakit mulai membaik. Kalau kondisinya bagus, 2 minggu sapi sudah sembuh dari PMK,” katanya.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik
Pasar Hewan Terpadu (PHT) di Desa Sumberdadi Kecam
pasar hewan terpadu tulungagung ditutup lagi
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
Pemeriksaan hewan
penyakit mulut dan kuku (PMK)
penyakit mulut dan kuku
TribunMataraman.com
| Dinas Peternakan Tulungagung Temukan 59 Kasus PMK di Sapi, Belum Ada Penutupan Pasar Hewan |
|
|---|
| Dapat 12 Ribu Dosis, Disnakkan Trenggalek Gencarkan Vaksinasi PMK |
|
|---|
| PMK Mulai Serang Sapi di Trenggalek, Vaksinasi Kembali Digencarkan |
|
|---|
| Kasus PMK di Kabupaten Blitar Kembali Naik, Januari 2026 Ini Ditemukan 72 Kasus |
|
|---|
| Komisi B DPRD Tulungagung Pastikan Produksi Susu Tidak Terpengaruh PMK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/mataraman/foto/bank/originals/Pemeriksaan-di-Pasar-Hewan-tulungagung.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.