Senin, 8 Juni 2026

Berita Terbaru Kabupaten Tulungagung

Peringati Hari Ibu, DPC PDIP Tulungagung Ziarah ke Makam Mbok Sarinah

DPC PDI Perjuangan Tulungagung ziarah ke makam Mbok Sarinah, di pemakaman umum Kelurahan Kepatihan, Tulungagung

Tayang:
Penulis: David Yohanes | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/istimewa
ZIARAH MAKAM - Jajaran DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung Timur ziarah di makam Sarinah, pengasuh Bung Karno di pemakaman umum Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (22/12/2025). Ziarah ini untuk memperingati hari ibu 

Ringkasan Berita:
  • Acara nyekar atau ziarah ini bagian peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Jajaran Dewan Pengurus Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung ziarah ke makam Mbok Sarinah, di pemakaman umum Kelurahan Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, Senin (22/12/2025) sore.

Sarinah adalah pengasuh Bung Karno yang punya peran membentuk karakter sang proklamator.

Acara nyekar atau ziarah ini bagian peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember.

“Peringatan hari ini, kita ingin mengembalikan sejarahnya,” ujar Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti.

Menurutnya, Bung Karno menetapkan hari ibu pada 22 Desember untuk memperingati Kongres Perempuan Indonesia pertama.

Saat itu di tahun 1928, para perempuan dari seluruh Indonesia berkumpul di Yogyakarta, 22-25 Desember untuk melaksanakan kongres.

“Jadi tidak kalah dengan pemuda, saat itu para perempuan juga menggelar kongres. Yang dibahas juga masalah perempuan, seperti isu pendidikan dan kesehatan perempuan,” tutur Erma.

Dari sejarah itu, Erma berpendapat peringatan hari ibu tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kaum perempuan.

“Jadi bukan sekadar  resepsi, berkebaya, mengucapkan hari ibu. Tapi refleksi, bagaimana kondisi perempuan saat ini,” ucapnya.

Makam Sarinah dipilih karena sosoknya sebagai guru spiritualitas dan yang mengajarkan kemanusiaan kepada Bung Karno.

Baca juga: Paguyuban SPPG Kabupaten Nganjuk Salurkan Bantuan Rp 77,5 Juta untuk Korban Bencana Sumatra

Sarinah yang mengajarkan tentang keadilan, peduli orang kecil dan kemanusiaan secara luas kepada Soekarno kecil dalam pengasuhannya.

“Ajaran itu disampaikan saat diasuh, saat makan, atau mau tidur. Akhirnya ajaran itu melekat pada Bung Karno,” tutur Erma.

Dalam Buku Sarinah, Bung Karno mengungkapkan perempuan harus berdaya, juga  harus terlibat dalam pergerakan kemerdekaan dan memajukan bangsa ini.

Bung Karno menggambarkan, laki-laki dan perempuan seperti  sayap kanan dan kiri.

“Jika salah satu sayap patah, maka burung tidak bisa terbang. Laki-laki dan perempuan harus berdaya, kalau konteks sekarang untuk  mengisi kemerdekaan,” katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved