Selasa, 14 April 2026

Lebaran 2026

Update Terbaru Prediksi 1 Syawal 2026 di Indonesia: Muhammadiyah, Pemerintah dan NU

Inilah Prediksi Lebaran 2026 di Indonesia, Ada Potensi Beda antara Pemerintah dan Muhammadiyah.

Editor: faridmukarrom
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Inilah Prediksi Lebaran 2026 di Indonesia, Ada Potensi Beda antara Pemerintah dan Muhammadiyah. 

Ringkasan Berita:
  • Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di Indonesia pada 2026 berpotensi berbeda. 
  • Muhammadiyah menetapkan Lebaran pada 20 Maret 2026, sementara pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia serta Nahdlatul Ulama memprediksi Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.

TRIBUNMATARAMAN.COM - Penetapan tanggal Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah pada 2026 diperkirakan berpotensi berbeda di Indonesia.

Perbedaan tersebut terjadi karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan pemerintah dan organisasi keagamaan tidak sama.

Peneliti astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa potensi perbedaan Lebaran berkaitan dengan konsep hilal lokal dan hilal global.

Hilal lokal merujuk pada pengamatan bulan baru di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara yang digunakan pemerintah melalui metode rukyatul hilal.

Baca juga: Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia, PDIP Jatim Minta Kepala Daerah Hentikan Seremonial Boros Anggaran

Sementara itu, hilal global berlaku tanpa batasan geografis. Jika ada satu lokasi di dunia yang memenuhi kriteria visibilitas hilal, maka awal bulan Hijriah dapat ditetapkan secara serentak.

Penjelasan Kemenag Soal Posisi Hilal
Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Arsad Hidayat, mengatakan posisi hilal pada akhir Ramadan secara perhitungan hisab masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan negara anggota MABIMS.

Menurutnya, ketinggian hilal di Indonesia diperkirakan berada di kisaran 0 hingga 3 derajat, dengan posisi tertinggi berada di wilayah Aceh.

Namun dari sisi elongasi, sudut antara matahari dan bulan, masih berada pada kisaran 4 hingga 6 derajat.

“Dalam standar MABIMS, ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” jelas Arsad dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Karena itu, kemungkinan besar hilal belum dapat terlihat sehingga awal Syawal berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026.

Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu sidang isbat yang dijadwalkan pada 19 Maret 2026.

Analisis BRIN Soal Posisi Hilal

Menurut analisis Badan Riset dan Inovasi Nasional, posisi hilal Syawal di Indonesia diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS.

Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Namun jika menggunakan kriteria Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dipakai oleh Muhammadiyah, posisi bulan sudah memenuhi syarat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved