Jumat, 5 Juni 2026

Berita Terbaru Kabupaten Kediri

Pidato Soekarno di PBB 1960 Diusulkan Masuk Kurikulum Nasional, Pegiat Sejarah Suarakan dari Kediri

Ada Usulkan peristiwa bersejarah pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum PBB pada 30 September 1960 dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: Sri Wahyuni
TribunMataraman.com/Situs Ndalem Pojok
DISKUSI - Acara diskusi kebangsaan di Situs Persada Soekarno, Ndalem Pojok, Kediri, Selasa (30/9/2025) malam. Dalam diskusi ini usulan agar peristiwa bersejarah pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. 

TRIBUNMATARAMAN.COM I KEDIRI - Sejumlah pegiat sejarah, kebudayaan, dan pendidikan di Kabupaten Kediri menggulirkan usulan agar peristiwa bersejarah pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional.

Dalam pidatonya lebih dari enam dekade silam, Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi universal yang diyakini bisa menjadi solusi perdamaian dan keadilan dunia.

Momentum itu dinilai bukan hanya catatan penting bangsa Indonesia, tetapi juga tonggak sejarah dunia yang patut dikenalkan kepada generasi muda.

"Generasi muda perlu tahu bahwa Pancasila pernah menggema di forum dunia, mendapat sambutan luas, dan dipandang sebagai tawaran solusi bagi perdamaian antarbangsa," kata Budiono salah satu tokoh komunitas saat diskusi kebangsaan di Situs Persada Soekarno, Ndalem Pojok Kediri, Selasa (30/9/2025) malam.

Acara yang dikemas dalam tajuk Tasyakuran Pancasila Menggema di PBB 30 September 1960 itu menghadirkan berbagai narasumber, diantaranya Juwaini mantan anggota Dewan Kesenian Kabupaten Kediri, Kushartono Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok dan Darmini aktivis perempuan Kediri.

Sejarawan sekaligus penulis buku Bung Karno, Roso Daras tampil sebagai keynote speaker.

Dalam diskusi kemarin, para peserta menekankan pentingnya memasukkan peristiwa bersejarah itu ke dalam kurikulum agar generasi muda memiliki kebanggaan terhadap sejarah bangsanya sekaligus memahami kontribusi Indonesia di kancah internasional.

"Kami yakin sejarah Pancasila di PBB yang mendapat sambutan luar biasa ini, bila diajarkan di sekolah, akan memperkaya wawasan kebangsaan anak-anak kita," kata Sikan Abdillah salah satu tokoh masyarakat yang turut hadir.

Baca juga: Pengendara Sepeda Motor Tewas Usai Menabrak Truk di Jalan Raya Kediri - Wates

Sementara itu, Kushartono menambahkan usulan ini semakin relevan ketika melihat hasil survei Satara Institute yang mencatat 83,3 persen pelajar SMA beranggapan Pancasila bukan ideologi final. 

"Karena itu, generasi muda harus tahu bahwa Pancasila pernah membanggakan bangsa di forum dunia. Hal ini penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia," jelasnya.

Dia mengingatkan bahwa pidato Soekarno di PBB tahun 1960 telah diakui dunia internasional. Bahkan sejak Mei 2023, dokumen pidato itu resmi ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World. 

"Jika dunia internasional saja mengagumi pidato Pancasila di PBB, apakah kita sebagai bangsa Indonesia tidak lebih harus mengaguminya?," tegas Kushartono.

Sejalan dengan itu, Juwaini menyebut nilai-nilai Pancasila sejatinya bersifat universal. 

"Ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi, dan kebangsaan adalah prinsip yang bisa diterima seluruh umat manusia," tuturnya.

Namun, Darmini mengingatkan bahwa pengajaran Pancasila tidak cukup hanya lewat teks dan kata-kata. Dia menekankan pentingnya keteladanan dalam praktik sehari-hari. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved