Rabu, 22 April 2026

Berita Terbaru Kabupaten Blitar

Kisah Hesti, Perajin Anyaman Bambu di Blitar yang Bertahan 6 Tahun dan Raup Omzet Jutaan

Kisah Perajin Perabotan Dapur Anyaman Bambu di Blitar, Berharap Pesanan Naik saat Harga Plastik Mahal

Penulis: Samsul Hadi | Editor: faridmukarrom
TribunMataraman.com/Samsul Hadi
KERAJINAN ANYAMAN BAMBU: Hesti Retno Satuti (37), sedang mengerjakan kerajinan perabotan dapur tradisional dari anyaman bambu di rumahnya, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Selasa (21/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Hesti Retno Satuti, perajin anyaman bambu asal Kabupaten Blitar, mampu bertahan mengembangkan usaha perabotan dapur tradisional selama hampir enam tahun. 
  • Berawal dari belajar dari sang nenek, Hesti kini memproduksi berbagai produk seperti besek, tas belanja, hingga tempat tisu.
  • Dalam sebulan, ia mampu menghasilkan minimal 500 unit pesanan dengan omzet Rp2 juta hingga Rp8 juta saat ramai. Inovasi menjadi kunci utama agar mampu bersaing dengan produk pabrikan. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | BLITAR - Di tengah gempuran produk modern berbahan plastik, usaha kerajinan tradisional masih mampu bertahan berkat inovasi dan ketekunan. Hal ini dibuktikan oleh Hesti Retno Satuti (37), perajin anyaman bambu asal Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Sudah hampir enam tahun, Hesti menekuni usaha kerajinan perabotan dapur berbahan anyaman bambu. Meski skalanya tidak besar, usaha tersebut mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarganya sehari-hari.

Setiap hari, Hesti terlihat telaten menganyam potongan bambu menjadi berbagai produk seperti besek, tas belanja, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya. Dalam proses produksi, ia juga dibantu sang suami, Muhammad Ali, terutama saat pesanan sedang membludak.

"Ini sedang menyelesaikan pesanan besek dari pusat oleh-oleh di Kademangan. Saya dapat pesanan 1.000 besek. Kalau pesanan banyak, biasanya dibantu suami," ujar Hesti.

Hesti mulai serius mengembangkan usahanya sejak tahun 2020. Ia mengaku belajar menganyam bambu dari neneknya yang juga seorang perajin tradisional. Namun, berbeda dengan generasi sebelumnya yang hanya membuat bakul nasi, Hesti mencoba berinovasi dengan menciptakan berbagai produk baru.

Berbekal pelatihan kerajinan yang pernah diikutinya di Surabaya pada 2017, Hesti mengembangkan ide kreatifnya. Kini, bambu tidak hanya dijadikan bakul, tetapi juga diolah menjadi tas hampers, tempat tisu, hingga tempat sampah.

"Saya selalu berinovasi agar bisa bertahan dan mengikuti permintaan pasar," katanya.

Menurutnya, inovasi menjadi kunci utama agar kerajinan tradisional tetap diminati di tengah persaingan dengan produk pabrikan. Selain meningkatkan nilai jual, variasi produk juga membuat usaha lebih fleksibel menghadapi perubahan tren.

Dalam satu bulan, Hesti mampu memproduksi setidaknya 500 unit kerajinan. Produk yang paling banyak diminati adalah besek dan tas belanja. Permintaan biasanya meningkat menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Harga produknya pun bervariasi, mulai dari Rp3.500 hingga ratusan ribu rupiah tergantung jenis dan ukuran. Dari usaha ini, Hesti bisa meraih omzet sekitar Rp2 juta per bulan, bahkan bisa mencapai Rp8 juta saat pesanan ramai.

Meski demikian, Hesti mengaku jumlah perajin anyaman bambu di desanya kini semakin berkurang. Banyak yang berhenti karena kalah bersaing atau tidak berinovasi.

"Dulu banyak perajin, tapi kebanyakan hanya membuat bakul. Sekarang banyak yang tidak bertahan," ujarnya.

Hesti pun berharap tren kenaikan harga plastik dapat menjadi peluang bagi produk ramah lingkungan seperti anyaman bambu. Ia optimistis, jika masyarakat mulai beralih ke produk alami, maka kesejahteraan perajin lokal juga akan meningkat.

"Mungkin nanti pesanan tas belanja akan meningkat karena harga plastik mahal," pungkasnya

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Mataraman

(tribunmataraman.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved