Rabu, 29 April 2026

Berita Terbaru Kota Kediri

Bandara Dhoho Kediri Harapan Baru Warga Selatan Jawa Timur, Pemerintah Diminta Dukung Operasional

Hadirnya Bandara Dhoho Kediri dipandang sebagai harapan baru untuk mempercepat konektivitas wilayah selatan Jawa Timur secara efisien.

Tayang:
Penulis: Luthfi Husnika | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/isya anshori
PENERBANGAN UMRAH - Suasana area depan Bandara Dhoho Kediri. Rencananya, 360 jamaah umrah secara perdana melalui Bandara Dhoho Kediri pada Minggu, 2 Maret 2025 kemarin diundur kembali. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | KEDIRI - Hadirnya Bandara Dhoho Kediri dipandang sebagai harapan baru untuk mempercepat konektivitas wilayah selatan Jawa Timur secara efisien.

Pemerintah pun didorong untuk menunjukkan komitmen serius dalam mendukung operasional bandara yang termasuk dalam proyek strategis nasional ini.

Pengamat transportasi dari Universitas Surabaya, Prof. Dr. Ir. Dadang Supriyatno, MT., IPU., ASEAN Eng., menilai Bandara Dhoho memiliki posisi strategis dalam membuka akses transportasi udara di kawasan selatan Jawa Timur.

"Hadirnya Bandara Dhoho memberi alternatif baru bagi moda transportasi udara di Jatim, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada Bandara Juanda di Surabaya," kata Dadang, Sabtu (17/5/2025).

Karena itu, pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam mempercepat operasional Bandara Dhoho, antara lain dengan mengidentifikasi rute-rute potensial serta menyiapkan fasilitas penunjang yang memadai.

Ia mengumpamakan lewat pengalaman Bandara Banyuwangi, yang dulunya nyaris tidak beroperasi akibat rendahnya jumlah penumpang dan minimnya maskapai yang beroperasi. Namun kini, bandara tersebut justru berkembang menjadi salah satu bandara yang cukup aktif.

Ini setelah pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bergerak bersama-sama menghidupkan bandara tersebut. Pemerintah melakukan pemetaan rute yang potensial, sehingga maskapai sebagai pihak swasta tergerak membuka jalur penerbangan di Banyuwangi.

"Selama ini kan urusan (membuka pasar) diserahkan maskapai. Komitmen pemerintah hanya di atas kertas saja, sehingga maskapai berjuang sendiri menciptakan pasar," kritik Dadang.

Dadang berharap pemerintah mengkaji ulang kembali konsep Bandara Dhoho dengan melibatkan pakar atau akademisi. Sehingga semua persoalan yang menghambat beroperasinya Bandara Dhoho bisa diinventarisir untuk diselesaikan bersama-sama.

Termasuk pengaturan wilayah udara di bagian Selatan Jawa Timur yang sebelumnya menjadi area latihan pesawat tempur Lanud Iswahjudi.

"Dibutuhkan intervensi pemerintah pusat untuk duduk bersama seluruh stakeholder dan pakar transportasi, sehingga cita-cita mewujudkan akses transportasi udara di Selatan Jawa Timur bisa terwujud," tegas Dadang.

Sebagai tambahan informasi, pembangunan Bandara Dhoho Kediri merupakan hasil inisiatif serta komitmen investasi dari PT Surya Dhoho Investama, anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk. Proyek ini sepenuhnya dibiayai oleh sektor swasta tanpa menggunakan dana dari anggaran pemerintah.

Bandara ini didesain memiliki panjang runway atau landas pacu berukuran 3.300 x 60 meter, apron commercial berukuran 548 x 141 meter, apron VIP berukuran 221 x 97 meter, 4 taxiway, dan lahan parkir seluas 37.108 meter persegi. Pada sisi darat, bandara ini memiliki terminal penumpang seluas 18.000 meter persegi berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun.

Beroperasinya Bandara Dhoho ini menjadi harapan baru masyarakat Jawa Timur dalam mendapatkan akses transportasi udara yang cepat dan efisien. Selain menghubungkan 13 kota dan kabupaten di Jawa Timur, keberadaan Bandara Dhoho juga mendongkrak sektor ekonomi, pariwisata, dan religi.

Bandara ini juga diharapkan membuka rute baru perjalanan Umroh dari Kediri ke tanah suci, sehingga layanan penerbangan Umroh bisa lebih cepat dan nyaman.

(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)

editor: eben haezer

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved