Minggu, 12 April 2026

Berita Malang

Harga Kedelai Melonjak, Produsen Tempe di Malang Akali dengan Perkecil Ukuran

Harga kedelai melonjak, para produsen tempe terpaksa mengakali dengan mengurangi ukuran tempe.

Penulis: Ipunk Purwanto | Editor: eben haezer
tribunmataraman.com/ipunk purwanto
Perajin membuat tempe darin kedelai impor di Sentra Industri Tempe Sanan Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (22/4/2025). Harga kedelai impor yang terus merangkak naik dari Rp 9.100 menjadi Rp 9.950 per kilogram sejak dua pekan terakhir sebagai dampak tarif Amerika Serikat membuat perajin tempe setempat memperkecil ukuran tempe dan mengurangi produksi dari lima kwintal menjadi empat kwintal per hari. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | MALANG - Harga bahan baku utama tempe, yakni kedelai, mengalami lonjakan signifikan di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang, pada Selasa (22/4/2025).

Menurut pengakuan sejumlah pedagang, kenaikan harga makanan favorit warga Indonesia itu naik sebelum lebaran Idul Fitri 2025.

Meski demikian, para produsen tempe mengaku sulit menaikkan harga karena khawatir kehilangan pembeli.

Sebagai solusi, para produsen tempe terpaksa mengakali dengan mengurangi ukuran tempe. 

"Kenaikan ini sejak sebelum lebaran Idul Fitri 2025 atau awal puasa. Dulu harga kedelai Rp 9.100 ribu per kilogram dan terus naik hingga sekarang Rp 9.950 ribu per kilogram," ungkap Dice Saputro, salah satu perajin tempe di Sanan, Kota Malang

Dice mengaku, bahwa ia harus mengurangi tebal ukuran tempe yang ia produksi. 

"Semakin lama, semakin menipis hampir setengah centi kita kurangi," jelasnya. 

"Ya mau bagaimana lagi, mau menaikan harga tempe takut pelanggan mengeluh," tambahnya. 

Ia juga menambahkan, meski harga tempe naik tetapi kualitas tempe tetap dijaga. 

Baca juga: Jalur Pacet-Cangar akan Dibuka Terbatas Mulai Besok, Hari ini Uji Coba

"Ya kita tetap jaga kualitas, maka ukuran yang kita kurangi," tambahnya. 

Selain memperkecil ukuran, produksi tempe harus dikurangi yang awalnya dari lima kwintal menjadi empat kwintal per hari. 

Sementara itu, salah satu pedagang tempe, Mustofa, harus tetap berjualan meski ukuran tempe dikurangi. 

"Tetap kita jualan mas, tapi ukuran tempe yang semakin mengecil banyak. pelanggan yang protes. Tapi mereka tau kok kalau naik, jadi tetap dibeli," jelas Mustofa. 

Dirinya menambahkan, meski harga naik, warga tetap membeli tempe miliknya. 

"Di pasar warga kalau dulu beli Rp 50 ribu sekarang jadi Rp 30 ribu," tambahnya.

(Ipunk Purwanto/tribunmataraman.com)

editor: Eka Silviana (int)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved