Selasa, 9 Juni 2026

Berita Terbaru Kabupaten Kediri

Tanpa Merusak Alam, Komunitas Dulur Bonsai Troeboes Kediri Kenalkan Budidaya Ramah Lingkungan

Komunitas Dulur Bonsai Troeboes di Gurah Kediri memperkenalkan teknik budidaya bonsai tanpa merusak ekosistem alam.

Tayang:
Penulis: Isya Anshori | Editor: faridmukarrom
Isya Anshori/ Tribun Mataraman
DIPANGKAS - Anggota Komunitas Dulur Bonsai Troeboes (DBT) Kediri saat melakukan pemangkasan dahan agar terlihat struktur dari bonsai, Minggu (20/4/2025). DBT yang bermarkas di Dusun Baran, Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini memperkenalkan teknik budidaya bonsai tanpa merusak ekosistem alam. 

TRIBUNMATARAMAN.COM |KEDIRI -  Sebuah komunitas di Kabupaten Kediri membawa misi pendekatan yang lebih ramah lingkungan dari perburuan tanaman liar untuk dijadikan bonsai.

Bernama, Komunitas Dulur Bonsai Troeboes (DBT) yang bermarkas di Dusun Baran, Desa Besuk, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini memperkenalkan teknik budidaya bonsai tanpa merusak ekosistem alam.

Dengan memanfaatkan lahan seluas 500 meter persegi di belakang rumah, komunitas ini menjadi wadah para pecinta bonsai untuk belajar, berbagi, sekaligus melestarikan lingkungan.

Tak hanya dari Kabupaten Kediri, anggotanya juga banyak yang tinggal dari Kabupaten tetangga seperti Nganjuk, Jombang hingga Tuban. 

Ratusan tanaman bonsai dalam berbagai tahap pertumbuhan terlihat tertata rapi di lahan tersebut. Mulai dari bahan mentah hingga pohon yang siap ikut kontes nasional, semua dirawat dengan teknik khusus tanpa eksploitasi dari alam liar.

Baca juga: IWbA Kediri Mantapkan Persiapan Lewat Latihan Bersama, Kini Target Emas di Porprov 2025

Udin Riskian salah satu anggota komunitas DBT mengungkapkan bahwa komunitas ini sudah eksis selama lebih dari enam tahun terakhir. Sejak awal terbentuk, mereka berkomitmen untuk tidak mengambil bahan bonsai langsung dari hutan atau pegunungan yang bisa mengganggu keseimbangan ekosistem.

"Kami di sini membudidayakan sendiri. Jadi bibit tanaman bonsai kami tanam, rawat, dan bentuk dari awal. Bisa juga membeli dari teman-teman komunitas lain, tapi prinsipnya tetap tidak merusak alam," jelas Udin saat ditemui Minggu (20/4/2025).

Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari anting putri, berbagai jenis ficus, hingga pohon lokal lain yang cocok dijadikan bonsai. Proses pembentukan bonsai diawasi sejak dini agar hasil akhirnya tidak hanya indah secara visual, tapi juga sehat dan kuat.

Tak hanya fokus pada pembibitan, komunitas DBT juga rutin menggelar pertemuan dua bulan sekali. Dalam pertemuan itu, para anggota, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, mengikuti sesi pembelajaran dari pelatih (trainer) bonsai.

"Kami belajar soal teknik pemangkasan, pemilihan media tanam, sampai penataan artistik bonsai. Ini penting agar setiap anggota bisa merawat dan membentuk bonsai dengan benar," imbuh Udin.

Namun, perjalanan menciptakan bonsai bukan tanpa kendala. Menurut Udin, tantangan terbesar adalah saat tanaman hampir jadi tapi tiba-tiba terserang penyakit atau mengalami kerusakan. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan dan mengurangi nilai estetika tanaman.

"Biasanya yang sering hama," ucapnya. 

Soal nilai ekonomi, bonsai yang dirawat dengan teknik budidaya ini ternyata memiliki nilai jual tinggi. 

"Ada yang harganya mulai dari ratusan ribu, jutaan, bahkan ada yang bisa mencapai miliaran rupiah di ajang kontes nasional kemarin," ungkapnya.

Ke depan, komunitas DBT berharap bisa terus aktif mengenalkan teknik budidaya bonsai ramah lingkungan ini. 

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Tribun Mataraman

(tribunmataraman.com)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved