13 Siswa SMP Terseret Ombak Pantai Drini

Pasca Tragedi Pantai Drini, Pj Gubernur Jatim Minta Dindik Evaluasi Program Study Tour Sekolah

Pasca tragedi Pantai Drini yang menewaskan 4 pelajar SMPN 7 Kota Mojokerto, Pemprov Jatim minta program study tour dievaluasi

Editor: eben haezer
dok.Humas Pemprov Jatim
EVALUASI STUDY TOUR - Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono saat diwawancara usai takziyah ke rumah duka siswa SMPN 7 Kota Mojokerto, korban laka laut di Gunung Kidul, Kamis (30/1/2025). Pj Gubernur meminta program karyawisata dan study tour dievaluasi untuk para siswa dengan mempertimbangan risiko dan keamanan siswa. 

TRIBUNMATARAMAN.COM | SURABAYA - Penjabat Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono meminta Dinas Pendidikan Jatim untuk mengevaluasi program study tour, outing class maupun karyawisata yang biasa dilakukan sekolah. 

Evaluasi ini dilakukan pasca terjadinya insiden laka laut siswa SMPN 7 Kota Mojokerto di Gunung Kidul yang menyebabkan empat siswa tewas beberapa waktu lalu. 

Dikatakan Adhy, program-program seperti study tour, karyawisata atau outing class harus dievaluasi dan diperhatikan kemanfaatan, risiko dan juga mempertimbangkan kondisi cuaca yang saat ini masih dalam musim hujan dengan intensitas tinggi.

Baca juga: Sekolah di Kota Mojokerto 7 Hari Doa Bersama Untuk Para Pelajar Korban Tragedi Pantai Drini

“Kita minya untuk sebelum karyawisata pastikan destinasi yang akan dituju betul-betul aman. Apalagi pada musim rawan bencana hidrometeorologi seperti ini yang punya potensi sangat besar, termasuk gelombang tinggi. Sehingga yang harus dilakukan adalah menghindari tempat-tempat wisata yang berisiko hidrometeorologi yang tinggi," jelas dia.

Menurut Adhy, program karyawisata sebenarnya baik untuk perkembangan dan pendidikan siswa-siswi. Meski begitu, keamanan dan keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama.

"Kedua, tentu terkait dengan keamanannya. Bagaimana anak-anak bisa bermain dengan aman di tempat yang memang ada pendampingnya," tegas Adhy.

"Harus benar-benar terjadwal dengan kondusif termasuk memperhatikan waktu istirahat siswa. Setiap sekolah tentunya harus memperhatikan keselamatan dan keamanan dari sebuah perjalanan," imbuh dia.

Evaluasi program ini, lanjut Adhy, bukan hanya berlaku di Mojokerto saja, namun juga untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Diharapkan, ke depan karyawisata seperti ini akan lebih aman dari segi pengawasan, pendampingan, dan pemilihan destinasi.

"Tentunya kami minta semua baik Dinas Pendidikan maupun kepala sekolah bisa memperhatikan ini. Termasuk penggunaan kendaraan harus diperhatikan kelayakannya, jangan hanya karena harga murah," pungkas Adhy.

(Fatimatuz zahroh/tribunmataraman.com)

editor: eben haezer

 

 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved