Berita Terbaru Kabupaten Tulungagung

DLH Kabupaten Tulungagung Ungkap Sumber Pencemaran di Sungai Ngrowo, dari Banyak Sumber

DLH Kabupaten Tulungagung Ungkap Sumber Pencemaran di Sungai Ngrowo, dari Banyak Sumber

Penulis: David Yohanes | Editor: Rendy Nicko
David Yohanes/TribunMataraman.com
Aktivis lingkungan mengambil sampel air Sungai Ngrowo yang dikeluhkan warga karena menebarkan bau tak sedap. 

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung menindaklanjuti pencemaran di Sungai Ngrowo.

DLH Tulungagung mengumpulkan para pihak terkait, termasuk pihak yang diduga menjadi sumber pencemaran.

Hasilnya, pencemaran di Sungai Ngrowo tidak berasal dari faktor tunggal namun ada banyak sumber.

“Kewenangannya sebenarnya ada di DLH Provinsi Jawa Timur. Namun karena lokasi di Tulungagung, kami memfasilitasi semua pihak terkait,” jelas Kepala DLH Tulungagung, Santoso.

Lanjutnya, pihaknya langsung menghubungi DLH Provinsi, Perum Jasa Tirta dan Pabrik Gula Mojopanggung (Modjopanggoong).

Para pihak ini lalu melakukan uji sampel air di Sungai Ngrowo dan Kali Song pada Senin (17/6/2024) lalu.

Pengujian dilakukan setelah para aktivis Aliansi Lereng Wilis Indonesia (Alwi) Tulungagung melakukan uji sampel, Sabtu (15/6/2024).

“Kami sama-sama turun ke lapangan untuk cek bersama. Dan memang hasilnya tidak jauh berbeda (dari hasil Alwi),” ungkap Santoso.

Diakui Santoso, memang ada indikasi pencemaran serta suhu air di atas rata-rata seperti yang disebutkan Alwi.

Namun dari analisanya, pencemaran ini sudah lama terjadi hingga terjadi akumulasi.

Hanya saja akhirnya muncul bau tidak sedap karena debit air sungai menjadi kecil karena musim kemarau.

“Sebelumnya tidak muncul bau, tidak muncul panas karena debitnya tinggi. Limbah terurai karena volume air yang banyak,” paparnya.

Saat debit air terbatas, maka konsentrasi limbah menjadi lebih tinggi.

Santoso meyakini, jika turun hujan kondisinya akan berbeda dan menjadi lebih baik lagi.

Sementara informasi yang diterima, banyak sumber pencemaran yang dibuang langsung ke Sungai Ngrowo.

“Memang ada limbah cair dari pembuangan PG Mojopanggung, tapi bukan itu saja. Ada banyak limbah, termasuk limbah rumah tangga,” ungkapnya.

Bahkan industri rambak yang ada di sekitar Sungai Ngrowo juga punya andil, meski juga tidak besar.

Limbah yang setiap hari dibuang ke sungai ini semakin terkonsentrasi karena tidak ada cukup air untuk mengurai.

Kondisi ini juga akibat tidak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal untuk warga.

Limbah air sisa aktivitas rumah tangga seharusnya diolah lebih dulu hingga layak dilepas ke sungai.

Namun karena tidak adanya fasilitas ini, air sisa rumah tangga langsung dibuang ke sungai.

“Karena setiap hari ada pembuangan limbah, lama-lama terakumulasi,” pungkas Santoso.

Sebelumnya warga mengeluhkan bau tak sedang dari Sungai Ngrowo dan Kali Song.

Bau tak sedap ini diduga berasal dari pembuangan limbah organik, hingga menyebabkan pembusukan.

(David Yohanes/TribunMataraman.com) 

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved