Berita Terbaru Kabupaten Tulungagung

Pelanggan PDAM Tulungagung Mengeluhkan Air Hitam, Camat Tegaskan Belum Ada Respons Hingga Saat Ini

Pelanggan PDAM Tulungagung Mengeluhkan Air Hitam, Camat Tegaskan Belum Ada Respons Hingga Saat Ini

Penulis: David Yohanes | Editor: Rendy Nicko
David Yohanes/TribunMataraman.com
Kantor PDAM Tirta Cahaya Agung di Jalan Jendral Sudirman, Kabupaten Tulungagung. 

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Pelanggan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tulungagung di Perumahan Tulungagung Permai mengeluhkan kualitas air yang buruk.

Hampir setiap hari air yang keluar berwarna hitam dan tidak layak untuk dipakai mandi, apalagi untuk dikonsumsi.

Sejauh ini belum ada jawaban dari pihak PDAM Cahaya Tirta Agung terkait gangguan itu.

Salah satu pelanggan yang mengeluhkan pasokan air berwarna hitam dari PDAM adalah Hari Prastijo, Camat Tulungagung.

"Hampir setiap pagi air yang keluar berwarna hitam. Jangankan diminum, dipakai mandi saja tidak bisa," ungkap Yoyok, panggilan akrabnya.

Yoyok mengaku telah mengadu ke pimpinan PDAM lewat grup Whatsapp yang berisi pemangku pelayanan di Tulungagung, termasuk petinggi PDAM.

Namun sampai saat ini belum ada penjelasan yang disampaikan kepadanya.

Padahal sebagai pelanggan, dirinya harus tetap membayar air yang keluar dari kran meski tidak layak dikonsumsi.

"Saya buka kran terpaksa airnya dibuang karena tidak layak konsumsi.Tapi kan tetap bayar karena air kotor itu sudah lewat meteran," keluhnya.

Yoyok berharap pihak PDAM Tulungagung segera memberi penjelasan ke pelanggan.

"Masa kami pelanggan diberi air mirip comberan. Tolong beri penjelasan, jangan diam saja tanpa respons," tegasnya.

Kualitas air PDAM yang buruk juga terjadi di asrama Polri di belakang RS Bhayangkara Tulungagung.

Seorang polisi mengungkapkan, air yang keluar dari kran berwarna hitam dan tidak bisa dipakai mandi.

Untuk kepentingan masak terpaksa harus membeli air minum dalam kemasan, sementara untuk mandi diambil dari air sumur.

"Terpaksa mengaktifkan kembali sumur untuk mandi. Tapi kami kan tetap wajib bayar biaya beban," keluh narasumber ini.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved